MSCI Coret Enam Saham Indonesia dari Global Standard Index

MSCI Coret Enam Saham Indonesia dari Global Standard Index
Foto: Ilustrasi MSCI Coret Enam Saham Indonesia dari Global Standard Index.

Lembaga penyedia indeks global MSCI melakukan perombakan besar dalam MSCI Equity Indexes May 2026 Index Review yang diumumkan pada Selasa (12/5/2026) di London. Dilansir dari Investortrust, bursa saham Indonesia tidak mendapatkan tambahan konstituen baru dalam MSCI Global Standard Indexes, melainkan kehilangan enam emiten sekaligus.

Enam saham Indonesia yang resmi dikeluarkan dari indeks utama tersebut adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), serta PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga turut terdepak.

Seluruh perubahan komposisi ini akan diterapkan setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Penyesuaian portofolio tersebut secara resmi mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026.

Secara global, MSCI memasukkan 49 saham baru dan menghapus 101 saham dari MSCI All Country World Index (ACWI). Medline Industries, MasTec, dan TechnipFMC menjadi tiga saham dengan kapitalisasi pasar terbesar yang menembus MSCI World Index.

Sementara itu, tiga emiten pendatang baru terbesar di MSCI Emerging Markets Index ditempati oleh Ita├║ Unibanco dari Brasil, serta dua korporasi asal China yaitu Yangtze Optical Fibre and Cable Joint Stock Limited Company dan Sichuan Biokin Pharmaceutical.

Perubahan struktur juga melanda MSCI Global Small Cap Indexes dengan penambahan 246 saham baru dan penghapusan 195 saham dari MSCI ACWI Small Cap Index. Pada kategori MSCI Global Investable Market Indexes (IMI), tercatat ada 208 penambahan dan 209 penghapusan saham.

Untuk MSCI Global All Cap Indexes, terdapat 144 saham baru yang masuk dan 81 saham yang keluar dari MSCI World All Cap Index. Di sisi lain, kategori MSCI Frontier Markets Indexes mencatat lima penambahan dan delapan penghapusan saham.

Tiga emiten baru terbesar di indeks frontier berdasarkan kapitalisasi pasar penuh berasal dari Vietnam dan Pantai Gading. Emiten tersebut adalah Ho Chi Minh City Development Joint Stock Commercial Bank, Binh Son Refining and Petrochemical Joint Stock Company, dan Banque Internationale pour le Commerce et lÔÇÖIdstrie de la C├┤te dÔÇÖIvoire.

MSCI juga merevisi MSCI Frontier Markets Small Cap Index dengan memasukkan 25 saham dan mendepak 19 saham. Di sisi lain, penangguhan perubahan indeks untuk saham-saham Bangladesh masih dipertahankan akibat kendala aksesibilitas pasar yang belum usai.

Langkah rebalancing dari MSCI ini memegang peranan krusial bagi arus modal internasional karena banyak manajer investasi pasif dan exchange traded fund (ETF) menjadikannya sebagai tolok ukur portofolio. Emiten yang terdepak biasanya akan menghadapi tekanan jual akibat penyesuaian dana global, sementara yang masuk berpeluang meraup dana asing.

Selain merombak indeks utama, MSCI memodifikasi susunan MSCI Small Cap Indexes Indonesia. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) langsung dimasukkan ke kategori small cap setelah posisinya diturunkan dari indeks global standard.

Kendati demikian, MSCI secara serentak menghapus 13 saham Indonesia dari kategori Small Cap tersebut. Emiten yang dicoret meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Nama lain yang tersingkir adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Studios International Tbk (MSIN), serta PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Tiga emiten terakhir yang digusur dari kategori ini adalah PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Untuk kategori MSCI Micro Cap Indexes Indonesia, tidak ada perubahan yang terjadi.

Di area regional Asia Pasifik, Indonesia dan Malaysia menjadi negara dengan pengurangan jumlah saham terbesar karena sama-sama kehilangan enam saham, disusul Taiwan yang kehilangan tujuh saham. Sebaliknya, India menambah lima saham baru, dan China memasukkan 22 saham baru meski mendepak 24 saham.

Jepang menambah tiga saham baru dan mencoret 14 saham, sementara Korea Selatan menghapus tiga saham tanpa ada tambahan. Australia berhasil memperoleh satu tambahan saham baru, dan peninjauan indeks MSCI berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026 untuk efektif per 1 September 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi