Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk membekukan proses rebalancing saham Indonesia pada Mei 2026 yang diperkirakan bakal memengaruhi arah aliran dana asing di pasar domestik. Keputusan ini memaksa investor ritel untuk lebih selektif dalam mencermati sektor-sektor potensial di tengah gejolak pasar global yang masih berlangsung.
Sektor energi dinilai menjadi pilihan utama tahun ini karena didorong oleh kuatnya katalis global pada komoditas minyak dan gas bumi serta batu bara. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengganggu distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama disrupsi pasokan energi dunia.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu'tashim, menjelaskan bahwa gangguan di jalur distribusi yang melayani 20 persen minyak global tersebut berdampak langsung pada stabilitas pasok dan harga. Sebagaimana dilansir dari Money, emiten seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) menjadi perhatian karena potensi sentimen positif dari kenaikan harga komoditas.
ÔÇ£Untuk tahun ini sektor yang masih menarik adalah sektor energi, dengan migas dan batu bara sebagai katalis utama dari efek krisis energi akibat konflik AS-Iran yang menimbulkan kerusakan pada infrastruktur migas di sekitaran selat Hormuz,ÔÇØ ujar Faris Saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Penilaian Faris menunjukkan bahwa saham-saham berbasis energi tersebut sangat berpotensi mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan global. Ia menambahkan bahwa emiten dengan tingkat free float market cap yang besar memiliki peluang lebih tinggi untuk mendapatkan aliran dana masuk atau inflow.
ÔÇ£Investor bisa memperhatikan saham-saham seperti MEDC dan HRUM,ÔÇØ paparnya.
Terkait mekanisme pasar, Faris menyebut sering terjadi aksi frontrunner dari institusi sebelum tanggal efektif rebalancing dilakukan. Kondisi ini menyebabkan harga saham seringkali sudah mengalami kenaikan terlebih dahulu sebelum keputusan resmi dari MSCI berlaku efektif bagi para pengelola dana.
ÔÇ£Untuk kenaikan harga (saham) kita perlu melihat potensial inflow yang dihitung berdasarkan free float market cap. Sehingga tiap emiten yang include bisa berbeda, dan terkadang banyak aksi frontrunner dari institusi yang mengambil keputusan terlebih dahulu sebelum tanggal efektif,ÔÇØ beber Faris.
Di sisi lain, terdapat dua emiten yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang terancam didepak dari indeks MSCI Indonesia Standard Cap. Hal ini disebabkan keduanya masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC) yang melanggar syarat batas konsentrasi kepemilikan saham.
ÔÇ£Untuk case DSSA dan BREN, kedua emiten ini merupakan konstituen dari MSCI Indonesia Standard Cap. Hal tersebut tentunya akan memicu outflow setidaknya sampai tanggal efektif karena kedua emiten tersebut masuk kedalam high shareholding concentrate sebagaimana pengumuman kemarin yang mensyaratkan saham yang berpotensi include tidak boleh masuk kedalam HSC list, artinya akan ada pelemahan seiring mandatory sell oleh MI yang mengacu pada indeks MSCI,ÔÇØ lanjut dia.
Kondisi HSC tersebut memicu aksi jual wajib atau mandatory sell oleh para manajer investasi yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan portofolio mereka. Tekanan jual terhadap saham DSSA dan BREN diprediksi akan terjadi secara bertahap hingga tanggal efektif rebalancing berakhir.