Langkah tegas diambil oleh lembaga pemeringkat indeks global Morgan Stanley Capital International terhadap pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Emiten teknologi berkode GOTO tersebut kini menghadapi pembekuan proses penyesuaian berkala atau rebalancing untuk indeks MSCI Global Standard Indexes bulan Mei 2026.
Keputusan penundaan ini, seperti dikutip dari Suara, dipicu oleh kondisi harga saham GOTO yang konsisten tertahan di level minimum Rp 50 per lembar saham atau gocap. Stagnansi harga ini dinilai berdampak langsung pada penurunan likuiditas saham, sehingga menimbulkan risiko replikasi bagi para pengelola dana.
"Adapun, kebijakan ini berlaku untuk MSCI Global Investable Market Indexes maupun indeks non-market capitalization weighted lainnya, seperti MSCI Factor, Sustainability & Climate, Thematic, dan Capped Indexes," tulis MSCI dalam laporannya.
Pembekuan rebalancing ini menempatkan posisi GOTO dalam ketidakpastian di dalam indeks global tersebut sejak pertama kali masuk pada Mei 2023. Jika situasi ini terus berlanjut hingga mengakibatkan GOTO dikeluarkan dari keanggotaan indeks MSCI, minat investor asing untuk mengoleksi saham ini diproyeksikan bakal merosot tajam karena tidak lagi menjadi acuan manajer investasi global.
Catatan pasar menunjukkan pergerakan saham GOTO terus melemah sepanjang tahun ini, di mana nilai sahamnya telah ambles sebesar 21,88 persen sejak 2 Januari 2026 dari posisi awal Rp 69 per saham. Angka tersebut terpuruk sangat jauh apabila disandingkan dengan harga saat penawaran umum perdana yang mencapai Rp 338 per lembar, maupun rekor tertinggi yang pernah menyentuh Rp 404 per saham.
Meskipun kondisi pergerakan saham di bursa sedang mengalami tekanan regulasi indeks, kinerja fundamental keuangan emiten transportasi daring dan e-commerce ini sebenarnya menunjukkan tren positif. Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Andriyanti, mengungkapkan dalam risetnya pada 26 Mei 2026 bahwa korporasi berhasil mencatatkan laba bersih pertamanya pada kuartal pertama tahun 2026 sebesar Rp 258 miliar.
Pertumbuhan performa operasional terlihat dari capaian EBITDA Grup yang menyentuh Rp 907 miliar, melonjak 131,0 persen secara tahunan dan melewati proyeksi tahunan sebesar Rp 3,3 triliun. Sektor bisnis layanan inti juga menunjukkan taji dengan kontribusi EBITDA sebesar Rp 439 miliar atau tumbuh 40,0 persen secara tahunan.
Namun, tantangan baru muncul dari sisi regulasi domestik yang berpotensi menekan margin keuntungan perusahaan ke depan. Langkah pemerintah yang dilaporkan menyetujui pembatasan komisi platform ojek online menjadi sebesar 8 persen diprediksi bakal memengaruhi struktur pendapatan bisnis inti.
"Kami memperkirakan hal ini dapat mengurangi tingkat komisi bersih bisnis utama sebesar 170 bps menjadi 17,2 persen dan membebani pendapatan bisnsin hingga 35,7 persen pada proyeksi tahun 2026," ucap Atikah dalam risetnya.
Di sisi lain, ekspansi bisnis pada sektor layanan finansial melalui GoPay mencatatkan lonjakan EBITDA sebesar 674,5 persen secara tahunan menjadi Rp 364 miliar. Nilai portofolio pinjaman yang disalurkan juga sukses menyentuh Rp 9,9 triliun dengan rasio kredit macet NPL di atas 90 hari yang terkendali pada level 0,8 persen serta rasio pinjaman lancar sebesar 92,0 persen.
"Profil NPL yang stabil mencerminkan penjaminan kredit berbasis data GoPay, yang didukung oleh data ekosistem tertutup, akuisisi peminjam selektif, eksposur tenor pendek, dan penagihan yang disiplin," imbuhnya.
Berlandaskan capaian fundamental yang kokoh tersebut, KB Valbury Sekuritas tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap prospek korporasi dengan merekomendasikan opsi beli. Target harga yang dipasang berada pada level Rp 58 per lembar saham.
"Kami menegaskan kembali rekomendasi Beli kami dengan target harga Rp 58 per saham yang menyiratkan potensi kenaikan 16,2 persen," katanya.
Kendati demikian, para pelaku pasar tetap diminta untuk mencermati sejumlah faktor risiko eksternal dan internal yang membayangi emiten ini. Beberapa risiko utama mencakup tingkat kompetisi industri yang semakin ketat, regulasi pembatasan bunga pinjaman, potensi lonjakan kredit macet, hingga tekanan jual yang konstan dari para pendiri serta pemegang saham era pra-IPO.