Mobil Hybrid Lebih Jarang Bermasalah Dibanding Kendaraan Bensin dan PHEV

Mobil Hybrid Lebih Jarang Bermasalah Dibanding Kendaraan Bensin dan PHEV
Foto: Ilustrasi Mobil Hybrid Lebih Jarang Bermasalah Dibanding Kendaraan Bensin dan PHEV.

Pasar kendaraan ramah lingkungan di Indonesia tengah tumbuh masif dan tidak lagi didominasi oleh kendaraan listrik murni. Pilihan masyarakat kini diperluas oleh kehadiran mobil hibrida, terutama teknologi hybrid konvensional (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Dikutip dari Suara, kedua teknologi ini menawarkan solusi serupa dengan mengawinkan efisiensi motor listrik dan fleksibilitas mesin bensin. Konsumen sering berasumsi bahwa PHEV yang lebih mahal otomatis menawarkan teknologi yang lebih superior dalam segala hal.

Namun, asumsi bahwa teknologi lebih baru pasti minim masalah dipatahkan oleh data empiris. Berdasarkan survei keandalan tahunan Consumer Reports yang menghimpun data dari pemilik sekitar 380.000 kendaraan, ditemukan sebuah paradoks teknologi.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa mobil hybrid konvensional mencatatkan performa paling mengagumkan. Rata-rata mobil hybrid memiliki 15 persen lebih sedikit masalah dibandingkan dengan kendaraan konvensional berbahan bakar bensin saja.

Sebaliknya, kelompok mobil listrik murni (EV) dan PHEV justru mencatatkan performa buruk. Kedua jenis kendaraan tersebut memiliki risiko mengalami 80 persen masalah lebih banyak dibandingkan mobil bensin tradisional.

"Data membuktikan bahwa mobil hybrid konvensional adalah jenis kendaraan paling 'bandel' di jalanan saat ini, mengalahkan mobil bensin murni maupun saudaranya yang lebih canggih, PHEV."

Direktur Senior Pengujian Mobil di Consumer Reports, Jake Fisher, mengungkapkan bahwa kunci perbedaan ini terletak pada kematangan teknologi dan tingkat kompleksitas sistem. Teknologi hybrid konvensional telah dikembangkan dan disempurnakan di pasar global selama hampir tiga dekade.

Sistem komputerisasi yang mengatur perpindahan mesin bensin ke motor listrik sudah sangat matang. Hal tersebut membuat potensi bug atau kegagalan sistem mekanis telah ditekan ke titik paling minimal.

Di sisi lain, PHEV mengusung kompleksitas yang jauh lebih masif dan komponen berlapis. Sistem kendaraan PHEV dipaksa bekerja dalam skenario yang lebih rumit, salah satunya terkait manajemen termal mandiri.

PHEV dirancang untuk bisa berjalan penuh menggunakan daya listrik dalam jarak tertentu. Artinya, mobil harus mampu mengatur suhu kabin dan baterai raksasanya secara mandiri tanpa bergantung pada operasional mesin bensin.

PHEV juga mengawinkan dua ekosistem pengisian daya sekaligus. Kendaraan harus mengelola pengisian daya otomatis internal melalui regenerative braking dan generator mesin, sekaligus sistem pengisian eksternal dari stasiun pengisian atau wall charger.

Pertemuan dua sistem kelistrikan yang berbeda ini memperbesar peluang terjadinya error pada modul kontrol pengisian daya. Secara ilmiah dan statistik, mobil hybrid konvensional menjadi pemenang bagi konsumen yang mencari kendaraan harian tangguh.

Teknologi PHEV tetap cocok bagi early adopter yang memiliki akses pengisian daya mandiri di rumah dan rute harian konsisten. Hanya saja, konsumen PHEV harus siap bahwa teknologi kompleks ini menuntut perhatian ekstra dan potensi kunjungan ke bengkel yang lebih tinggi.

Artikel terkait

Rekomendasi