Mimpi di Balik Tumpukan Rongsokan: Kisah TK Inspirasi Indonesia

Mimpi di Balik Tumpukan Rongsokan: Kisah TK Inspirasi Indonesia
Foto: Ilustrasi Mimpi di Balik Tumpukan Rongsokan: Kisah TK Inspirasi Indonesia.

Setiap pagi, langkah-langkah kecil itu menyusuri jalan tanah yang becek di sela tumpukan rongsokan dan karung-karung sampah di Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Di tengah aroma menyengat rongsokan dan deretan rumah sederhana yang berdempetan, anak-anak kecil datang membawa tas menuju sebuah ruang belajar gratis bernama TK Inspirasi Indonesia.

Sekolah itu berdiri sederhana di RT 003/RW 008, tak jauh dari aliran Kali Malang di perbatasan Bekasi dan Jakarta Timur. Bangunannya nyaris luput dari perhatian. Hanya ruangan kecil berukuran sekitar 3x4 meter dengan kursi plastik warna-warni dan papan tulis seadanya. Namun, dari ruang kecil itulah anak-anak di kampung pemulung mulai mengenal huruf, angka, cerita, dan mimpi tentang masa depan.

Dulu, banyak anak di lingkungan tersebut menghabiskan hari dengan bermain di sekitar tumpukan sampah tanpa kegiatan belajar yang jelas. Kini, suasana itu perlahan berubah. Setiap pagi, puluhan anak duduk rapi di ruang belajar sederhana untuk membaca, menulis, berhitung, dan bernyanyi bersama.

Pendiri TK Inspirasi Indonesia, Firda Budhiardjo (41), mengatakan sekolah itu lahir dari kegelisahannya saat melihat banyak anak usia dini belum tersentuh pendidikan.

"Awalnya saya bukan mengajak anak-anaknya untuk bersekolah, tapi saya ingin anak-anak di sini setidaknya bisa membaca dan menulis" ujar Firda, Pendiri TK Inspirasi Indonesia.

Firda pertama kali datang ke wilayah itu pada 2017 ketika mengunjungi rumah asisten rumah tangganya. Pemandangan anak-anak kecil yang hanya berkeliaran di sekitar permukiman membuatnya sulit melupakan tempat tersebut. Ia melihat potensi besar yang tersia-siakan di antara gunungan limbah.

"Sebenarnya bangunan ini milik ART saya. Dulunya masih bedeng dan ala kadarnya. Alhamdulillah sekarang sudah renovasi, jadi lebih nyaman untuk anak-anak belajar" ujar Firda, Pendiri TK Inspirasi Indonesia.

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal sebagai guru, Firda memberanikan diri membuka ruang belajar sederhana dengan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung yang dipelajarinya sendiri. Tak disangka, pada tahun pertama sekolah itu langsung menerima sekitar 60 murid.

Guru yang Tetap Bertahan

Di balik ruang belajar sederhana itu, ada perjuangan yang berjalan diam-diam setiap hari. Firda mengatakan, selama hampir sembilan tahun sekolah itu bertahan tanpa donatur tetap. Operasional sekolah hingga gaji guru sebagian besar menggunakan dana pribadinya.

"Kami tidak memiliki donatur tetap. Jadi saya menggunakan dana pribadi dan terkadang mencari rekanan yang mau berdonasi" ujar Firda, Pendiri TK Inspirasi Indonesia.

Pandemi Covid-19 sempat membuat jumlah murid menurun dan beberapa guru memilih berhenti mengajar. Namun sekolah kecil itu tetap bertahan. Di tengah keterbatasan tersebut, seorang guru bernama Lia Sri Mulyani (40) masih setia mendampingi anak-anak belajar setiap hari. Lia hanya lulusan sekolah dasar dan sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Perjalanannya menjadi pengajar dimulai ketika anaknya bersekolah di TK Inspirasi Indonesia. Ketulusannya melihat semangat para murid membuatnya tergerak untuk ikut berkontribusi di papan tulis.

"Saya senang lihat anak-anak di sini rajin sekolah. Jadi saya ingin sekalian mengajar juga" ujar Lia, Guru TK Inspirasi Indonesia.

Kini, setiap pagi Lia mengajar seorang diri dengan honor sekitar Rp 300.000 per bulan. Setelah kelas selesai, ia kembali bekerja sebagai ART demi mencukupi kebutuhan hidup sebagai ibu tunggal dengan lima anak. Baginya, pengetahuan adalah bekal utama agar anak-anak ini tidak mudah diperdaya saat dewasa nanti.

"Pendidikan itu sangat penting. Kalau bisa baca, kita tidak akan tersesat. Kalau bisa berhitung, kita tidak akan mudah ditipu" ujar Lia, Guru TK Inspirasi Indonesia.

Harapan Para Orangtua

Bagi para orangtua murid, sekolah gratis itu menjadi jalan kecil menuju harapan yang lebih besar. Entin (45), seorang pemulung yang menyekolahkan anaknya di TK Inspirasi Indonesia, berharap anaknya bisa memiliki kehidupan yang berbeda dari dirinya.

"Ya pendidikan itu penting banget buat kami. Jangan sampai emak bapaknya pemulung, anaknya juga ikutan gitu" ujar Entin, Orangtua Murid.

Menurut dia, sekolah gratis menjadi kesempatan yang sulit didapat karena keterbatasan ekonomi. Di tengah himpitan biaya hidup di pinggiran kota, kehadiran sekolah ini bak oase yang memberikan harapan baru bagi generasi penerus mereka.

"Kalau sekolah di luar kan pakai biaya, nah di sini enggak. Yang penting anak saya biar pintar" ujar Entin, Orangtua Murid.

Ruang Aman untuk Bermimpi

Konselor anak Agustina Twinky Indrawati menilai keberadaan sekolah gratis seperti TK Inspirasi Indonesia memiliki dampak penting bagi kondisi psikologis anak-anak dari keluarga rentan. Pendidikan memberikan mereka martabat di tengah lingkungan yang keras.

"Mereka bisa merasa dihargai, dianggap setara dengan teman-teman lain, serta memiliki harapan dan identitas yang positif" ujar Twinky, Konselor Anak.

Namun di sisi lain, anak-anak dari keluarga miskin tetap rentan mengalami rasa minder dan kecemasan terhadap masa depan. Lingkungan yang kumuh seringkali menekan kepercayaan diri mereka secara perlahan.

"Mereka bisa menjadi lebih tertutup, menarik diri, bahkan mulai mempercayai penilaian negatif tentang dirinya" ujar Twinky, Konselor Anak.

Karena itu, menurut Twinky, sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman untuk membangun kepercayaan diri anak-anak. Di tengah gang sempit, bau sampah, dan rumah-rumah sederhana di kampung pemulung Bekasi, ruang kecil bernama TK Inspirasi Indonesia perlahan menjadi tempat anak-anak belajar mengenal masa depan. Di tempat itu, mereka tumbuh dengan keyakinan sederhana bahwa mimpi tidak selalu ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan.

Artikel terkait

Rekomendasi