Media sosial legendaris era 2000-an, Friendster, kini resmi hadir kembali dalam versi yang lebih modern di bawah kepemilikan baru. Dilansir dari Detik iNET, Mike Carson yang merupakan seorang pemrogram komputer dan pengusaha telah mengakuisisi domain serta merek dagang platform tersebut.
Friendster sempat berjaya pada 2002 sebelum akhirnya mulai ditinggalkan pengguna dan resmi menutup layanannya pada 2015. Perjalanan Carson mendapatkan domain ini bermula dari negosiasi dengan pemilik sebelumnya yang memakan biaya sekitar USD 30.000 atau setara Rp 517 jutaan.
Carson berhasil memperoleh hak merek dagang Friendster secara resmi pada 13 Mei 2025 setelah melewati proses hukum yang panjang. Keputusannya menghidupkan kembali platform ini didorong oleh keinginan untuk menciptakan pengalaman jejaring sosial yang lebih positif dan nyata.
Berbeda dengan platform media sosial modern yang mengandalkan interaksi digital jarak jauh, Friendster versi baru mengusung konsep 'mengetuk ponsel pintar'. Carson merancang aplikasi ini agar pengguna harus bertemu secara langsung di dunia nyata untuk bisa menjalin pertemanan.
"Saya merasa jejaring sosial telah mempromosikan aspek negatif di zaman modern, tetapi saya ingat Friendster sebagai pengalaman yang sangat positif dan menyenangkan (walaupun sangat membuat frustrasi ketika situsnya tidak mau memuat)," ujar Mike Carson.
Untuk menambah teman, dua pengguna harus berada dalam jarak dekat dan secara bersamaan mengetukkan ponsel mereka. Carson percaya metode ini akan meningkatkan peluang bagi orang-orang untuk benar-benar bertemu dan berinteraksi secara fisik di kehidupan nyata.
Tantangan Peluncuran dan Fitur Aplikasi
Proses peluncuran aplikasi Friendster di App Store sempat mengalami kendala teknis. Apple awalnya menolak aplikasi tersebut karena dianggap melanggar persyaratan fungsionalitas minimum, namun Carson berhasil memodifikasi sistem hingga akhirnya aplikasi tersebut tersedia untuk diunduh.
Terdapat dua poin utama yang membedakan Friendster versi Carson dengan layanan lainnya. Pertama adalah fitur 'teman dari teman' yang memungkinkan pengguna melihat jaringan koneksi orang lain untuk kemudian diajak bertemu langsung.
Fitur kedua yang cukup unik adalah 'melemahnya koneksi' secara otomatis jika dua pengguna tidak saling menyentuh ponsel mereka dalam jarak dekat minimal sekali dalam setahun. Carson menegaskan bahwa fitur ini bukan merupakan bentuk hukuman bagi para pengguna.
"Ini bukan hukuman. Ini adalah sinyal lembut bahwa persahabatan sejati harus dipupuk secara langsung, bukan online," kata Carson.
Saat ini, Mike Carson menyatakan belum fokus pada monetisasi aplikasi, meskipun ada kemungkinan peluncuran paket berbayar di masa depan untuk fitur premium. Fokus utamanya saat ini adalah memastikan aplikasi dapat menutupi biaya operasional sambil memberikan manfaat bagi interaksi sosial masyarakat.