Metode pengaturan urutan makan atau food order method terbukti efektif menekan lonjakan gula darah secara signifikan berdasarkan hasil penelitian kesehatan pada Sabtu, 18 April 2026. Pola makan ini mengutamakan konsumsi serat dan protein terlebih dahulu sebelum mengonsumsi sumber karbohidrat.
Data dari jurnal Diabetes, Metabolic Syndrom and Obesity tahun 2024 menunjukkan bahwa mengonsumsi karbohidrat di urutan terakhir mampu menurunkan lonjakan gula darah pascamakan sekitar 40 persen. Temuan ini dilansir dari Detik Health yang mengulas mekanisme biologis di balik penyerapan nutrisi tubuh.
Penerapan serat dan protein di awal waktu makan berfungsi memperlambat pengosongan lambung serta merangsang hormon pengatur gula darah. Selain membuat lonjakan glukosa lebih landai, metode ini membantu memberikan rasa kenyang lebih cepat sehingga porsi karbohidrat dapat lebih terkontrol.
Meskipun efektif bagi penderita diabetes, para ahli menekankan bahwa kualitas isi piring tetap menjadi prioritas utama sesuai Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan RI. Metode ini dianggap sebagai alat pendukung tambahan dan bukan menjadi alasan untuk bebas mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula.
Risiko diabetes secara keseluruhan tetap dipengaruhi oleh kompilasi faktor mulai dari total asupan gula harian, aktivitas fisik, hingga berat badan. Pengaturan urutan makan membantu meringankan kerja tubuh dalam mengelola glukosa namun tetap memerlukan konsistensi dalam pola hidup sehat secara menyeluruh.
"Food order method adalah cara makan dengan mengatur urutan makanan dalam satu waktu makan." ujar Penulis Detik Health, Lulusan Sarjana Ilmu Gizi Universitas Andalas.
Narasi tersebut menjelaskan bahwa perubahan sederhana pada urutan konsumsi jenis pangan dapat memberikan dampak biologis yang berbeda pada respons insulin manusia.
"Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?" tanya Penulis Detik Health, Lulusan Sarjana Ilmu Gizi Universitas Andalas.
Pertanyaan terkait kalori tersebut menjadi bagian dari edukasi mengenai ancaman gula berlebih yang sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari dan berisiko memicu penyakit diabetes.