Meta dilaporkan bakal membagikan sekitar 8.000 surat pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawannya pada Rabu, 20 Mei 2026. Langkah efisiensi dari raksasa media sosial milik Mark Zuckerberg tersebut akan memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerja global perusahaan.
Keputusan pemecatan massal ini menuai sorotan tajam karena dilakukan tepat setelah perusahaan mencatatkan salah satu kuartal paling menguntungkan dalam sejarah. Dilansir dari Detik iNET, laporan kuartal pertama Meta menunjukkan pendapatan sebesar USD 56,31 miliar dan laba USD 26,8 miliar untuk tiga bulan pertama tahun 2026.
Kondisi kontradiktif antara keuntungan finansial yang besar dan pemangkasan hubungan kerja berimbas buruk pada situasi internal perusahaan. Hal tersebut dilaporkan membuat semangat kerja para pegawai terjun bebas akibat ketidakpastian nasib mereka.
Berdasarkan laporan Wired yang mewawancarai lebih dari belasan karyawan dan mantan karyawan Meta, situasi di dalam perusahaan kini menjadi tidak kondusif. Ketidakbahagiaan menyelimuti lingkungan kerja internal di berbagai unit bisnis Meta.
"Semua orang merasa tidak bahagia, satu-satunya pihak yang tidak merasa demikian secara harfiah, hanyalah para eksekutif," sebut seorang pegawai Instagram.
Dalam pertemuan town hall yang digelar baru-baru ini, Mark Zuckerberg memberikan penjelasan langsung kepada para staf mengenai latar belakang kebijakan tersebut. Pimpinan Meta itu mengaitkan pemangkasan dengan anggaran operasional masa depan.
Dalam town hall baru-baru ini, Zuckerberg mengatakan ke karyawan bahwa PHK adalah konsekuensi dari biaya infrastruktur AI dan ia menolak mengesampingkan kemungkinan PHK lebih lanjut pada paruh kedua tahun ini.
Situasi internal semakin memburuk karena manajemen tidak memberikan rincian pasti mengenai daftar pegawai yang akan diberhentikan. Kondisi tersebut memicu spekulasi dan kecemasan mendalam di kalangan pekerja yang masih bertahan.
"Moral kerja akan merosot. Benar-benar tak ada cara untuk menghindarinya," kata McCue, merujuk pada pernyataan Patrick McCue, wakil presiden di Right Management.
Patrick McCue menilai manajemen tidak memberikan informasi mendetail sejak awal terkait pihak-pihak yang terdampak. Selain itu, para manajer juga tidak dibekali dukungan memadai untuk meredam kegelisahan tim di bawah mereka.
"Ketegangan itu sendiri sudah memicu peningkatan kecemasan," kata McCue.
Dampak psikologis ini membuat produktivitas dan fokus kerja karyawan menurun drastis di tengah rumor yang terus berkembang. Salah seorang pekerja Meta membeberkan tekanan berat yang dihadapi dari sudut pandang internal organisasi.
"Bekerja di sini tidaklah mudah. Dari luar, ada sentimen negatif yang masif dan tentu ada alasannya. Namun, penderitaan bekerja di sini tidak terlalu dipahami dengan baik," kata seorang karyawan Meta secara anonim.
Karyawan tersebut juga mengungkapkan adanya perasaan dilematis yang akan dihadapi apabila namanya masuk dalam daftar pemangkasan hubungan kerja. Ada kekhawatiran besar mengenai stabilitas finansial dalam jangka panjang.
"Jadi apa yang saya duga akan saya rasakan jika saya di-PHK adalah datangnya rasa lega dan bahagia seketika, namun dengan sangat cepat diikuti kesadaran menyesakkan bahwa saya berada dalam masalah keuangan, karena saya tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapat pekerjaan lain," imbuhnya.
Kondisi pasar kerja sektor teknologi saat ini dinilai jauh lebih menantang dibandingkan beberapa tahun lalu. Hal tersebut menambah beban pikiran karena statusnya sebagai tumpuan ekonomi keluarga.
"Enam bulan seharusnya cukup, beberapa tahun yang lalu begitu. Namun saat ini, saya tidak yakin saya akan bisa mendapatkannya. Pasangan saya di rumah bersama anak-anak kami, jadi saat ini sayalah pencari nafkah utama dan sungguh menakutkan jika memikirkan bahwa penghasilan mungkin akan hilang," pungkasnya.