Peta kekuatan industri otomotif global sedang mengalami pergeseran besar seiring dengan dominasi pabrikan asal China yang semakin menguat di pasar internasional.
Merek-merek seperti BYD, Chery, MG, dan GWM kini menggeser posisi pemain lama melalui penetrasi teknologi dan penawaran harga yang kompetitif.
Dikutip dari Suara, data terbaru dari Drive Australia menunjukkan lonjakan penjualan dari 14 merek asal China sebesar 40 persen selama empat bulan pertama tahun 2026.
Volume penjualan kendaraan tersebut melesat dari 56.510 unit menjadi 93.539 unit dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekspansif ini berdampak langsung pada penurunan total penjualan mobil merek Jepang di Australia yang merosot hingga 20 persen.
Pabrikan Jepang hanya membukukan penjualan sebanyak 150.797 unit dalam empat bulan pertama tahun ini, turun dari 186.507 unit pada tahun lalu.
Nissan mencatat penurunan terdalam di antara merek utama Jepang dengan angka mencapai 32,2 persen, diikuti Mitsubishi sebesar 25,5 persen dan Suzuki sebesar 23,4 persen.
Raksasa otomotif Toyota juga mengalami penurunan penjualan sebanyak 17.502 unit atau melemah sekitar 22,7 persen dibandingkan tahun lalu.
Pergeseran minat konsumen ke arah teknologi baru yang ditawarkan oleh produsen China menjadi faktor utama di balik perubahan peta pasar di Negeri Kanguru tersebut.
Selain memperkuat posisi di Australia, produsen otomotif China juga menerapkan strategi baru untuk menembus pasar Uni Eropa.
Langkah ini diambil guna menyiasati hambatan dagang berupa kenaikan tarif impor yang tinggi bagi kendaraan listrik asal China.
BYD kini mulai beralih ke strategi memproduksi mobil secara lokal di Eropa guna menghindari tarif impor tersebut sekaligus meningkatkan daya saing pasar.
Produsen tersebut tengah bernegosiasi dengan beberapa pabrikan Eropa, termasuk grup Stellantis, untuk mengambil alih atau berbagi jalur produksi di fasilitas yang sedang menganggur.
Langkah memproduksi mobil secara lokal di dalam wilayah Eropa dirancang untuk menghindari hambatan pajak sekaligus mendekatkan merek dengan konsumen setempat.
Saat ini, pabrikan asal China dilaporkan telah menguasai sekitar 22 persen pangsa pasar kendaraan listrik di Eropa seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap mobil ramah lingkungan.