Pemerintah mulai menggeser fokus pembangunan infrastruktur jalan nasional agar lebih inklusif bagi seluruh pengguna jalan. Langkah ini diambil guna mengubah orientasi pembangunan yang selama ini dianggap hanya mengutamakan kendaraan roda empat atau lebih.
Aspek keselamatan pengendara sepeda motor kini menjadi prioritas utama dalam perombakan standar teknis jembatan di Indonesia. Dilansir dari Kompas, fokus utama perbaikan menyasar pada komponen siar muai atau expansion joint yang sering menjadi penyebab kecelakaan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, memberikan penegasan bahwa keamanan bagi pengguna roda dua di jalan nasional adalah parameter kinerja yang bersifat mutlak. Berdasarkan evaluasi di lapangan, banyak celah sambungan jembatan yang ditemukan terlalu lebar sehingga membahayakan nyawa.
"Yang menjengkelkan saya adalah jembatan. Expansion joint-nya itu sebagian sudah lebar. Mungkin bagi mobil hanya ketidaknyamanan, tapi kalau motor itu bahaya; bisa jatuh, bisa kecelakaan. Saya sudah minta ke balai-balai jalan untuk fokus pada pembahasan ini," ujar Dody menjawab Kompas.com, Jumat (17/4/2026).
Secara teknis, expansion joint merupakan elemen krusial yang berfungsi menjaga struktur jembatan agar tetap dinamis saat terjadi perubahan suhu. Namun, kerusakan pada komponen ini sering kali menjadi jebakan bagi ban sepeda motor yang memiliki profil lebih tipis dibandingkan ban mobil.
Kondisi ini terpantau sangat kritis di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa akibat beban kendaraan berat yang melintas setiap hari. Data pemantauan terbaru menunjukkan adanya hampir 30.000 titik kerusakan dan lubang di sepanjang jalur Pantura yang meliputi wilayah Jawa Barat hingga Jawa Timur.
Kementerian PU saat ini sedang mempercepat proses perbaikan dengan progres fisik yang telah mencapai angka 82 persen. Fokus tim di lapangan tidak hanya sekadar menambal lubang, tetapi memastikan permukaan pada setiap sambungan jembatan benar-benar rata bagi pengendara.
Penyebab Degradasi Infrastruktur Jalan
Ketahanan struktur jembatan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dari kendaraan bermuatan lebih atau Over Dimension Over Load (ODOL) serta cuaca ekstrem. Beban berlebih dari truk ODOL menyebabkan komponen fleksibel pada sambungan kehilangan elastisitasnya secara prematur.
Selain beban kendaraan, curah hujan yang tinggi turut mempercepat pengikisan aspal pada bagian bibir sambungan jembatan. Untuk mengatasi hal ini, Kementerian PU mengoptimalkan peran penilik jalan di setiap Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN).
"Ke depan saya maunya jalan nasional itu aman untuk sepeda motor. Standarnya saya naikkan sedikit; tadinya cuma buat mobil, sekarang standarnya harus aman untuk motor," tegas Dody.
Para petugas penilik jalan kini mendapatkan instruksi baru untuk melakukan penyisiran rutin setiap 10 hingga 20 menit pada ruas jalan yang menjadi tanggung jawabnya. Deteksi dini terhadap kerusakan sekecil apa pun diwajibkan guna mencegah terjadinya korban jiwa di jalan raya.
Kebijakan ini dipandang sebagai bentuk keadilan infrastruktur bagi mayoritas pengguna jalan di Indonesia yang didominasi oleh sepeda motor. Jalan nasional kini diposisikan sebagai ruang publik yang aman bagi semua lapisan, bukan sekadar jalur logistik untuk kendaraan berat.
"Keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan di level Balai Jalan agar standar "aman untuk motor" benar-benar terwujud secara merata, bukan sekadar selesai dibangun atau diperbaiki," tuntas Dody.