Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengusulkan pemindahan posisi gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian kereta api guna meningkatkan aspek keamanan penumpang. Usulan ini menyusul tragedi kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, pukul 20.52 WIB.
Insiden tersebut mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagaimana dilansir dari Suara. Mayoritas korban jiwa dalam kecelakaan ini merupakan perempuan yang berada di gerbong khusus wanita pada posisi rangkaian paling belakang.
Arifah Fauzi mendorong PT KAI untuk mengkaji ulang tata letak penumpang setelah meninjau kondisi korban di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi pada Selasa, 28 April 2026. Penempatan gerbong khusus di ujung rangkaian dinilai sangat berisiko saat terjadi benturan keras dari depan maupun belakang.
"Tadi, kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," tutur Arifah Fauzi, Menteri PPPA.
Menteri PPPA menjelaskan bahwa perubahan posisi ini bertujuan untuk meminimalisir dampak langsung jika terjadi kecelakaan serupa di masa mendatang. Ia berharap pihak operator kereta api dapat mempertimbangkan pembagian posisi penumpang laki-laki dan perempuan secara lebih aman.
"Jadi yang laki-laki di ujung, yang iya, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu. Tadi sementara itu," imbuh Arifah Fauzi, Menteri PPPA.
Pernyataan tersebut menuai beragam reaksi dari masyarakat dan pakar transportasi yang menilai pemindahan gerbong bukan solusi utama dalam mencegah kecelakaan. Selain usulannya, profil pendidikan Arifah yang merupakan lulusan Magister Komunikasi Universitas Indonesia dan mantan tokoh IPPNU serta Muslimat NU turut menjadi perhatian publik pasca insiden tersebut.