Menteri Luar Negeri Singapura Kembangkan Coding AI Asisten Diplomatik

Menteri Luar Negeri Singapura Kembangkan Coding AI Asisten Diplomatik
Foto: Ilustrasi Menteri Luar Negeri Singapura Kembangkan Coding AI Asisten Diplomatik.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengembangkan asisten pribadi berbasis kecerdasan buatan (AI) secara mandiri untuk mendukung efisiensi tugas diplomatiknya pada Minggu (26/4/2026). Dilansir dari Detik iNET, Balakrishnan melakukan kustomisasi pemrograman menggunakan perangkat keras Raspberry Pi 5 dan membagikan struktur kodenya melalui platform GitHub.

Eksperimen teknologi ini dilakukan dengan memadukan sistem memori kompleks yang mampu mempelajari naskah pidato hingga artikel kebijakan. Hasil kustomisasi tersebut memungkinkan AI untuk memberikan pembaruan informasi harian, meriset topik, serta menyusun draf pidato diplomatik.

"Saya telah bereksperimen dengan apa yang saya anggap sebagai 'otak kedua' untuk seorang diplomat, menggunakan dua blok bangunan open-source: NanoClaw oleh Gavriel Cohen ([github.com/qwibitai/nanoclaw](https://github.com/qwibitai/nanoclaw)) yang berjalan secara lokal di Raspberry Pi 5 dan pola LLM Wiki dari Andrej Karpathy," kata Balakrishnan.

Melalui unggahan di media sosial, Balakrishnan menjelaskan bahwa teknologi ini telah terintegrasi dengan saluran perpesanan untuk memproses data secara langsung. Inovasi ini diklaim memberikan efisiensi tinggi dalam mengelola beban kerja menteri yang padat.

"Ini menjadi sangat berharga, tidak berani saya matikan! Diplomat yang belajar untuk bekerja dengan AI akan memiliki keunggulan yang berarti. Saya pikir keunggulan itu ada sekarang," kata Balakrishnan.

Arsitektur AI yang dibangun terdiri dari tiga lapisan informasi, mulai dari pengumpulan data mentah seperti transkrip pidato hingga pengolahan menjadi grafik pengetahuan semantik. Balakrishnan mengintegrasikan 10 alat pendukung termasuk Claude Agent SDK dan SQLite dengan tetap memprioritaskan faktor keamanan data.

Langkah inovatif ini mendapatkan sorotan dari berbagai pihak, termasuk media OfficeChai yang memberikan apresiasi atas latar belakang Balakrishnan sebagai dokter spesialis mata yang mampu menguasai pemrograman AI.

"Dalam peran di mana pengetahuan institusional, konteks kebijakan, dan nuansa historis adalah segalanya, sistem memori yang kompleks bukanlah kemewahan. Justru itu intinya. Apakah pemerintah dan diplomat lain akan mengikuti jejak ini masih menjadi pertanyaan terbuka. Tetapi Menteri Luar Negeri Singapura telah menjawabnya sendiri," tulis OfficeChai.

Dukungan juga mengalir dari pegiat teknologi di akun Facebook pribadi sang menteri yang menyarankan agar hasil pengembangan ini dipresentasikan secara formal di lingkup industri.

"Bapak mestinya presentasi di depan insinyur AI Singapura bersama pendiri dan perusahaan AI seperti OpenAI, Cursor, Deepmind," puji Agrim Singh.

Artikel terkait

Rekomendasi