Mengenal Weekend Warrior dan Risiko Cedera Akibat Olahraga Intens

Mengenal Weekend Warrior dan Risiko Cedera Akibat Olahraga Intens
Foto: Ilustrasi Mengenal Weekend Warrior dan Risiko Cedera Akibat Olahraga Intens.

Kebiasaan berolahraga secara intens hanya pada akhir pekan kini menjadi tren di kalangan pekerja urban yang sibuk sepanjang hari kerja. Fenomena yang dikenal sebagai weekend warrior ini ternyata menyimpan risiko kesehatan serius bagi tubuh.

Dikutip dari Suara, aktivitas fisik berat seperti lari jarak jauh, gym, hingga mendaki gunung yang dilakukan mendadak tanpa adaptasi dapat memicu cedera otot dan gangguan sendi. Kondisi ini rentan dialami mereka yang menghabiskan waktu Senin hingga Jumat dengan duduk lama di depan komputer.

Sebuah riset yang dimuat dalam BMC Public Health 2025 menunjukkan bahwa menjadi weekend warrior memang lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali. Aktivitas ini terbukti mampu menekan risiko kematian akibat penyakit jantung dan kanker.

Namun, para pakar kesehatan memberikan catatan kritis mengenai pentingnya proses pemulihan. Tubuh manusia memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan intensitas beban olahraga agar tidak mengalami cedera yang merugikan.

Menanggapi tren ini, Kepala Klinik Utama MOTIVA, dr. Veranika Darmidy, Sp.KO, SubSp.ALK (K), menekankan bahwa penanganan cedera kini menjadi kebutuhan yang sangat penting. Pemanfaatan teknologi modern menjadi solusi untuk mempercepat regenerasi jaringan tubuh.

Salah satu metode yang digunakan adalah teknologi radiofrekuensi 448 kHz. Teknologi ini diklaim efektif dalam merangsang pertumbuhan jaringan baru dari dalam tubuh pasien yang mengalami masalah muskuloskeletal.

Aplikasi teknologi ini, yang terdapat dalam perangkat INDIBA Activ, bekerja dengan cara meningkatkan sirkulasi darah serta mengurangi peradangan. Proses ini membantu meredakan rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan alami jaringan yang rusak pasca olahraga.

"Teknologi baru dan modern dapat memperkuat komitmen kami untuk memberikan layanan terapi yang optimal dan efektif, sehingga pasien mendapatkan manfaat maksimal dalam proses pemulihan mereka," kata dr. Veranika.

Masalah cedera olahraga sangat lekat dengan masyarakat di perkotaan, terutama bagi karyawan yang minim melakukan peregangan selama bekerja. Saat mereka langsung melakukan olahraga berat di akhir pekan, tubuh yang tidak siap akan mengalami inflamasi atau spasme otot.

Situs Mayo Clinic mengategorikan pelaku olahraga jenis ini sebagai weekend warrior athlete. Di Indonesia sendiri, minat terhadap ajang lari, hiking, hingga olahraga padel terus melonjak setelah masa pandemi berakhir.

Peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan preventif sayangnya belum dibarengi dengan pemahaman yang baik mengenai pemulihan tubuh. Padahal, pemulihan adalah komponen kunci dalam menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan panduan bahwa aktivitas fisik yang ideal harus mengutamakan konsistensi. WHO menyarankan pengurangan gaya hidup sedenter atau kebiasaan terlalu banyak duduk yang sering dialami pekerja kantor.

Rekomendasi dari WHO bagi orang dewasa adalah melakukan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150 menit dalam seminggu. Latihan penguatan otot juga sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk mencegah terjadinya cedera muskuloskeletal.

Dalam ranah terapi medis, teknologi radiofrekuensi bekerja dengan menghasilkan panas melalui dua mode utama, yakni kapasitif dan resistif. Mode kapasitif fokus pada jaringan lunak seperti otot, sementara mode resistif bekerja pada jaringan keras.

"Kapasitif dan resistif memungkinkan penanganan efektif pada berbagai jenis jaringan tubuh, mulai dari jaringan lunak seperti otot hingga jaringan padat seperti tendon, ligamen, dan sendi," ujar dr. Veranika.

Artikel terkait

Rekomendasi