Penyakit lupus merupakan salah satu kondisi autoimun kronis yang membahayakan berbagai organ tubuh manusia. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai penyakit seribu wajah karena memicu gejala yang sangat bervariasi dan menyerupai gangguan kesehatan lain.
Dalam dunia medis, penyakit ini disebut systemic lupus erythematosus (SLE). Penyakit tersebut terjadi saat sistem pertahanan tubuh keliru menyerang sel serta jaringan sehat, yang lazimnya berfungsi menangkal virus atau bakteri berbahaya, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Dampak dari kondisi ini adalah timbulnya peradangan persisten di area kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga bagian otak. Tingkat keparahan yang dialami setiap pasien tidak sama dan gejalanya dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan informasi resmi Rumah Sakit Pondok Indah.
Penyakit ini terbagi ke dalam beberapa tipe dengan karakteristik yang berbeda. Systemic lupus erythematosus (SLE) menjadi jenis yang paling banyak ditemukan karena menyerang multiorgan secara bersamaan.
Jenis kedua adalah Cutaneous Lupus Erythematosus atau discoid lupus erythematosus yang memicu masalah pada area kulit. Gejalanya berupa kemunculan ruam di bagian tubuh yang kerap terpapar sinar matahari seperti wajah, leher, telinga, serta lengan, bahkan bisa memicu kebotakan rambut.
Tipe berikutnya yaitu Drug-induced Lupus yang muncul akibat efek samping konsumsi obat-obatan tertentu seperti penurun kejang dan obat antiaritmia. Jenis ini umumnya bersifat temporer dan akan mereda setelah konsumsi obat dihentikan oleh pasien.
Terakhir terdapat Neonatal Lupus yang tergolong sebagai kasus langka pada bayi baru lahir. Bayi dari orang tua yang mengidap lupus memiliki kerentanan lebih tinggi mengalami kondisi serupa, meski tidak selalu diturunkan secara langsung.
Penyebab dan Faktor Pemicu
Hingga saat ini, pemicu utama dari penyakit autoimun ini belum diketahui secara pasti. Namun, para pakar meyakini adanya kombinasi dari faktor genetik, hormon estrogen, pola hidup, serta kondisi lingkungan sekitar.
Beberapa unsur yang dapat memicu atau memperburuk kondisi lupus di antaranya adalah paparan sinar matahari yang berlebihan, infeksi bakteri atau virus, serta penggunaan obat hipertensi, antibiotik tertentu, dan obat antikejang.
Kelompok Risiko Tinggi
Terdapat beberapa kelompok masyarakat yang memiliki tingkat risiko lebih besar untuk terkena penyakit ini. Kelompok tersebut meliputi perempuan, individu berusia 15 hingga 45 tahun, masyarakat keturunan Afrika-Amerika, Hispanik, dan Asia, serta orang yang memiliki anggota keluarga pengidap lupus.
Gejala Komplit yang Sering Muncul
Indikasi klinis penyakit ini bisa berkembang secara perlahan atau muncul mendadak dengan masa kekambuhan yang disebut flare. Gejala umum yang sering dikeluhkan meliputi rasa lelah ekstrem, demam tanpa sebab, nyeri sendi, kaku sendi, serta ruam merah menyerupai kupu-kupu di area pipi dan hidung.
Pasien juga kerap merasakan sesak napas, nyeri dada, mata kering, sakit kepala, gangguan konsentrasi, sariawan, rambut rontok, hingga pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala lain berupa fenomena Raynaud, yaitu perubahan warna jari menjadi pucat saat terpapar suhu dingin atau stres.