Rasa sakit akibat dikhianati pasangan tidak hanya melukai perasaan secara emosional, tetapi juga membawa risiko serius terhadap kondisi kesehatan mental seseorang. Pelanggaran kepercayaan dalam hubungan yang sudah dibangun lama dapat memicu trauma mendalam.
Kondisi ini membuat individu merasa sangat rentan karena sebelumnya menaruh ekspektasi besar terhadap pasangan mereka. Dilansir dari Lifestyle, reaksi yang muncul akibat tindakan menyakitkan ini sangat beragam, mulai dari kemarahan hingga menarik diri dari lingkungan.
Fenomena psikologis ini disebut sebagai betrayal trauma, sebuah trauma interpersonal yang lahir dari pengkhianatan orang terdekat. Dampaknya bagi kondisi psikologis korban tidak dapat dipandang sebelah mata karena bersifat signifikan.
Data dari Verywell Mind menunjukkan bahwa sekitar 30 persen hingga 60 persen individu yang dikhianati pasangannya menunjukkan gejala gangguan stres pasca trauma atau PTSD. Selain itu, mereka juga berisiko mengalami depresi dan kecemasan akut.
Pengkhianatan tersebut juga berdampak pada penurunan rasa percaya diri korban. Hal ini sering kali memicu kesulitan bagi seseorang untuk membangun komitmen atau hubungan baru di masa depan akibat trauma yang belum pulih.
Perlu dipahami bahwa bentuk pengkhianatan tidak terbatas pada perselingkuhan fisik semata. Ada berbagai tindakan lain yang sering tidak disadari namun berdampak merusak, seperti pasangan yang tidak memprioritaskan hubungan atau bersikap tidak konsisten.
Tindakan menghilang tanpa penjelasan atau ghosting juga termasuk dalam spektrum pengkhianatan ini. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda yang sering terabaikan dalam sebuah hubungan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.
Berdasarkan informasi dari Positive Psychology, terdapat beberapa indikasi pengkhianatan emosional maupun fisik yang harus diperhatikan dalam hubungan. Salah satunya adalah munculnya fantasi romantis atau seksual terhadap orang lain selain pasangan sah.
Selain itu, hadirnya perasaan cinta atau ketertarikan emosional kepada pihak ketiga merupakan sinyal kuat adanya masalah. Sering kali, pelaku juga akan merasa bersalah setiap kali melakukan interaksi tertentu di luar hubungan utama mereka.
Tanda lainnya meliputi kebiasaan membicarakan hal buruk mengenai pasangan kepada orang lain. Pelaku juga cenderung membagikan hal-hal bersifat pribadi yang seharusnya menjadi rahasia antara dirinya dan pasangannya saja.
Ketergantungan dukungan emosional kepada orang lain secara berlebihan dan menghabiskan banyak waktu dengan orang tersebut juga menjadi indikasi nyata. Hal ini biasanya dibarengi dengan hilangnya ketertarikan secara perlahan terhadap pasangan sendiri.
Langkah Pemulihan dan Penanganan Trauma
Menghadapi trauma akibat pengkhianatan merupakan proses yang sulit dilakukan sendirian, sehingga bantuan tenaga profesional sangat disarankan. Terapi menjadi salah satu cara efektif dalam membantu proses pemulihan psikologis korban.
Melalui bantuan terapis, seseorang dapat memahami dan memproses rasa sakit yang dialami. Langkah ini penting dilakukan agar dampak negatif tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih kronis atau berkepanjangan.
Proses terapi juga memungkinkan individu untuk mengurai luka lama, termasuk pengalaman masa lalu yang mungkin memengaruhi pola hubungan saat ini. Terapi membantu mengenali masalah kelekatan dan mengajarkan cara membangun relasi yang lebih sehat ke depannya.
Dikutip dari Healthline, sebagian besar ahli menyarankan terapi individu sebagai fokus utama pemulihan pribadi. Metode ini bertujuan untuk membantu korban mengenali serta mengurangi dorongan untuk menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpanya.
Tujuan akhir dari pendampingan profesional ini adalah membangun kembali rasa percaya diri yang sempat hancur. Pasien akan diajarkan teknik-teknik sehat dalam menghadapi gejolak emosi sulit yang muncul selama masa pemulihan pasca pengkhianatan.