Atrofi vagina menjadi kondisi medis saat lapisan dinding vagina mengalami penipisan, kekeringan, hingga peradangan. Masalah kesehatan ini dipicu oleh merosotnya kadar hormon estrogen di dalam tubuh.
Seperti dilansir dari Media Indonesia, gangguan tersebut cukup kerap melanda kaum perempuan. Kondisi ini utamanya dialami oleh mereka yang sudah memasuki tahapan menopause.
Hormon estrogen memegang peran vital untuk memelihara jaringan vagina agar tetap tebal, elastis, lembap, sekaligus terhindar dari iritasi. Penurunan hormon ini membuat jaringan vagina rentan rapuh dan kehilangan hidrasi alaminya.
Dampaknya, perempuan yang mengalami atrofi vagina akan merasakan sejumlah keluhan fisik. Masalah ini berpotensi mengganggu ritme aktivitas harian sampai menurunkan kualitas kehidupan seksual.
Faktor pemicu penipisan dinding vagina ternyata tidak melulu disebabkan oleh fase menopause. Perempuan dalam situasi medis tertentu juga memiliki risiko serupa akibat fluktuasi hormon.
Penyusutan kadar estrogen pascamelahirkan serta selama periode menyusui terbukti mampu menaikkan potensi munculnya gangguan ini. Penggunaan jenis kontrasepsi hormonal tertentu atau terapi penekan estrogen turut menjadi pemicu lain.
Kelompok wanita yang pernah melewati operasi pengangkatan ovarium juga rentan terkena. Riwayat pengobatan kanker seperti kemoterapi serta radioterapi pun memperbesar risiko atrofi vagina.
Beberapa aspek gaya hidup ikut memengaruhi kesehatan organ reproduksi ini. Kebiasaan merokok, riwayat belum pernah melahirkan secara normal, hingga jarangnya aktivitas seksual tergolong sebagai faktor risiko.
Ragam Gejala Atrofi Vagina yang Sering Muncul
Indikasi klinis dari atrofi vagina bervariasi mulai dari skala ringan hingga level yang mengganggu kenyamanan. Perempuan umumnya merasakan sensasi kering, gatal, serta perih pada area intim.
Gejala lainnya meliputi keluarnya cairan keputihan yang berwarna kecokelatan atau kemerahan. Muncul pula rasa terbakar ketika buang air kecil disertai frekuensi berkemih yang menjadi lebih sering.
Penderita juga kerap kesulitan menahan desakan buang air kecil atau mengalami inkontinensia urine. Infeksi saluran kemih serta infeksi jamur pada vagina yang terus-menerus kambuh menjadi tanda lainnya.
Masalah ini kerap memicu flek atau perdarahan ringan pascalahirnya kontak fisik intim. Nyeri saat berhubungan seksual juga sulit dihindari akibat menipisnya cairan pelumas alami.
Perkembangan Gejala dan Dampak Kualitas Hidup
Fase awal atrofi vagina adakalanya berjalan tanpa disadari karena gejalanya yang samar. Sejumlah perempuan mungkin sekadar merasa kelembapan area intim berkurang sewaktu melakukan hubungan seksual.
Apabila kondisi ini diabaikan tanpa penanganan medis, gangguan dapat berkembang menjadi lebih parah. Iritasi yang berulang dan rasa nyeri parah berisiko mengganggu keharmonisan bersama pasangan.
Para wanita diimbau untuk tidak menyepelekan setiap perubahan yang terjadi pada organ intim. Deteksi dini sangat penting sebelum keluhan tersebut mengganggu aktivitas harian.
Waktu Tepat untuk Menghubungi Dokter
Konsultasi ke dokter spesialis sangat disarankan jika indikasi atrofi vagina sudah masuk kategori berat. Tindakan medis diperlukan bila nyeri persisten muncul meski sudah dibantu cairan pelumas.
Tanda bahaya lain yang memerlukan pemeriksaan meliputi keputihan yang mengeluarkan aroma bau tidak sedap. Perdarahan vagina tanpa sebab jelas atau keluhan yang berbarengan dengan gejala menopause juga harus segera ditangani.