Iran telah memulihkan sebagian akses ke situs rudal bawah tanahnya meski mendapat serangan dari Amerika Serikat. Iran dikabarkan siap melancarkan lebih banyak serangan rudal jarak jauh ke Israel dan negara lain di Timur Tengah setelah membangun kembali gudang senjatanya. Serangan dari AS dan Israel telah menghancurkan akses ke situs rudal Iran dengan merusak jalan dan pintu masuk terowongan. Namun, gambar satelit yang dianalisis oleh CNN menunjukkan Iran menggunakan alat sederhana seperti buldoser dan truk untuk memulihkan akses rudalnya.
Meskipun kesepakatan awal antara Iran dan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz telah tercapai, perincian kesepakatan ini memerlukan waktu berbulan-bulan. Jika ketegangan terus memanas, Iran siap melanjutkan peluncuran rudalnya. Sam Lair, peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Studies, mengatakan Iran masih bisa meluncurkan rudal selama memiliki peluncur dan kru, meski produksi rudalnya berhenti.
Iran kini menghadapi risiko besar ketika menggali kembali akses ke terowongan rudalnya, mengingat serangan dari AS dan Israel seringkali menargetkan peralatan yang digunakan. Meski demikian, Teheran tetap meluncurkan rudal selama perang, meskipun dalam jumlah yang berkurang drastis. Sejak gencatan senjata, Iran mempercepat upayanya untuk membuka kembali pangkalan dan terowongan rudal yang rusak.
CNN melaporkan bahwa Iran telah membuka kembali 50 dari 69 pintu masuk terowongan yang sebelumnya dihancurkan AS dan Israel di 18 fasilitas rudal bawah tanah. Iran juga memperbaiki bagian-bagian pangkalan lainnya termasuk jalan yang dihancurkan sebelumnya. Gambar satelit menunjukkan jalan yang kini telah diaspal kembali.
Tujuan Utama Konflik
Presiden Donald Trump berkali-kali menegaskan bahwa persenjataan rudal Iran adalah alasan utama perang ini. Iran telah membangun jaringan pangkalan rudal bawah tanah selama lebih dari 20 tahun untuk melindungi rudal dan peluncurnya. Fasilitas ini terletak sangat dalam di bawah tanah, beberapa ratus meter, sehingga menyulitkan AS dan Israel untuk melakukan serangan militer langsung.
Di minggu awal konflik, serangan lebih difokuskan pada pintu masuk pangkalan, serta mencari dan menghancurkan peluncur. Strategi ini berhasil membatasi kemampuan Iran dalam menembakkan rudal secara signifikan. Serangan-serangan merusak pangkalan dengan mengubur sebagian besar pintu masuk dan akses.
Sementara itu, AS dan Israel juga berusaha mengganggu rantai pasokan rudal Iran, mulai dari pabrik kecil hingga fasilitas produksi besar. Meski demikian, para ahli memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 1.000 rudal di fasilitas bawah tanah yang relatif tidak rusak. Timur Kadyshev, peneliti di Institute for Peace Research and Security Policy di Universitas Hamburg, mengatakan Iran telah mempersiapkan perang jenis ini selama 20 tahun.
Upaya Perbaikan Intensif
Untuk memperbaiki kembali pangkalannya, Iran menggunakan sejumlah besar peralatan konstruksi dan alat pemindah tanah. Gambar satelit menunjukkan kendaraan-kendaraan sedang mengeruk puing-puing sementara truk-truk jungkit menimbun kawah-kawah ledakan. Di dekat Isfahan, serangan dari AS dan Israel menargetkan empat pintu masuk terowongan, menyebabkan sedikitnya 18 kawah ledakan.
Di awal Mei, gambar satelit menunjukkan truk jungkit menutup kawah-kawah ini. Dua pintu masuk lainnya yang tertutup puing-puing kini telah dibuka, dan jalan menuju lokasi tersebut sudah diaspal. Serangan ke pabrik rudal Iran mungkin tidak akan mampu mencegah Tehran membangun kembali kapasitas produksinya.
Penilaian intelijen AS menunjukkan Iran tengah memulihkan kekuatan militer termasuk produksi drone, serta mengganti peluncur rudal dan kapasitas produksi lainnya.