Pendekatan mendidik yang bebas dari segala bentuk kekerasan harus dikedepankan dalam penerapan kedisiplinan di lingkungan sekolah. Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti pada Minggu (5/4/2026), sebagaimana dilansir dari Edukasi.
Penyelesaian berbagai persoalan di institusi pendidikan dinilai perlu mengutamakan jalur pembinaan serta dialog. Langkah dialogis ini dianggap penting guna menjaga keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.
"Disiplin harus dibangun tanpa kekerasan. Bukan dengan hukuman fisik, tetapi dengan pendekatan yang membuat siswa sadar dan berubah," kata Mu'ti, Mendikdasmen.
Prinsip memuliakan manusia juga menjadi tuntutan bagi sekolah dalam menghadirkan proses pembelajaran. Hal ini menjadi inti dari penataan fondasi belajar dalam membangun karakter seluruh peserta didik.
"Kalau ada permasalahan di sekolah dapat diselesaikan dengan diskusi lebih dulu, agar hubungan tetap terjaga antara sekolah dan orangtua," lanjut Mu'ti, Mendikdasmen.
Implementasi kurikulum tersembunyi atau hidden curriculum melalui pembiasaan nilai-nilai kehidupan sehari-hari turut menjadi sorotan. Pembiasaan aman dan nyaman tersebut meliputi aspek sopan santun, disiplin, hingga budaya saling menghargai.
"Kata kunci dalam pembelajaran di sekolah adalah memuliakan. Guru harus memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya memuliakan," ujar Mu'ti, Mendikdasmen.
Keteladanan menjadi sarana utama dalam membangun nilai-nilai yang tidak diajarkan secara formal sebagai mata pelajaran tersebut. Selain itu, pendampingan menyeluruh dari guru juga menjadi poin krusial berikutnya.
"Banyak hal penting dalam pendidikan yang tidak diajarkan sebagai mata pelajaran, tetapi dibiasakan seperti disiplin, sopan santun, saling menghargai, yang dibangun melalui keteladanan," ungkap Mu'ti, Mendikdasmen.
Tugas seorang pendidik ditegaskan tidak hanya terbatas pada kegiatan pengajaran materi akademik di dalam kelas saja. Guru memiliki tanggung jawab mendalam yang mencakup bimbingan emosional sekaligus sosial.
"Tugas guru itu tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing. Karena itu semua guru harus menjadi guru wali yang mendampingi siswa, tidak hanya secara akademik, tetapi juga sosial dan emosional," ucap Mu'ti, Mendikdasmen.