Memahami Surat Al Anfal Lewat Perspektif Ulama Asyariyah dan Maturidiyah

Memahami Surat Al Anfal Lewat Perspektif Ulama Asyariyah dan Maturidiyah
Foto: Ilustrasi Memahami Surat Al Anfal Lewat Perspektif Ulama Asyariyah dan Maturidiyah.

Surat Al-Anfal merupakan surat ke-8 dalam juz 10 Al-Qur'an yang terdiri dari 75 ayat. Sebagai surat Madaniyah, Al-Anfal turun pada fase krusial pembentukan tatanan sosial dan politik Islam, tepatnya setelah kemenangan besar umat Muslim dalam Perang Badar, seperti dikutip dari Media Indonesia.

Surat ini bukan sekadar regulasi mengenai harta rampasan, melainkan manifesto tentang ketaatan, tawakal, dan kedaulatan Allah SWT atas segala kemenangan.

Secara etimologi, Al-Anfal adalah bentuk jamak dari nafl yang berarti tambahan atau pemberian sukarela. Dalam konteks syariat, Al-Anfal merujuk pada harta rampasan perang (ghanimah) yang diperoleh kaum Muslimin dari musuh. Nama ini dipilih karena ayat pertama surat ini menjawab perselisihan para sahabat mengenai pembagian harta pascaperang Badar.

Selain Al-Anfal, surat ini juga dikenal dengan nama Surat Al-Badr. Penamaan ini merujuk pada peristiwa besar Perang Badar yang menjadi latar belakang utama narasi dalam surat ini. Beberapa ulama salaf juga menyebutnya sebagai surat yang menjelaskan tentang hukum-hukum jihad dan perdamaian.

Asbabun nuzul (sebab turunnya) Surat Al-Anfal berkaitan erat dengan peristiwa Perang Badar pada tahun 2 Hijriah. Setelah kemenangan diraih, muncul perbedaan pendapat di kalangan sahabat mengenai pihak yang paling berhak atas harta rampasan perang. Kelompok muda yang terjun langsung di garis depan merasa paling berhak, sementara kelompok tua yang menjaga Rasulullah SAW dan mengatur strategi juga merasa memiliki hak.

Maka turunlah ayat pertama, "Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: 'Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul...'". Ayat ini menegaskan bahwa otoritas mutlak atas hasil perjuangan ada pada Allah dan Rasul-Nya, guna meredam egoisme dan mengembalikan fokus pada ketakwaan.

Surat ini mengatur pembagian harta secara adil, yaitu seperlima (khumus) diperuntukkan bagi Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil. Terdapat pula penekanan pada ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai syarat mutlak meraih kemenangan.

Mengenai strategi dan etika perang, surat ini memuat larangan melarikan diri dari medan perang, perintah untuk mempersiapkan kekuatan (ribathul khail), dan anjuran untuk berdamai jika musuh menginginkan perdamaian.

Karakteristik orang beriman juga dijelaskan dalam surat ini, yaitu mereka yang bergetar hatinya saat mendengar nama Allah dan bertambah imannya saat dibacakan ayat-ayat-Nya (Ayat 2-4).

Surat Al-Anfal juga menegaskan bahwa kemenangan dalam Perang Badar bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik, melainkan bantuan ribuan malaikat yang dikirimkan Allah SWT.

Perspektif Ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah

Dalam menafsirkan Surat Al-Anfal, khususnya ayat-ayat yang berkaitan dengan perbuatan Allah (Af'alullah), ulama Ahlussunnah wal Jamaah Asy'ariyah dan Maturidiyah memberikan penekanan pada konsep Tauhid dan Kasb.

Pada ayat 17, "Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka...". Ulama Asy'ariyah menjelaskan bahwa secara hakiki, Allah-lah Pencipta segala perbuatan (Khaliq al-Af'al), sementara manusia hanya melakukan Kasb (usaha). Hal ini digunakan untuk mematahkan paham Jabariyah (yang meniadakan usaha manusia) dan Qadariyah (yang meniadakan peran Allah).

Ulama Maturidiyah menekankan pada hikmah di balik setiap ketetapan Allah dalam surat ini. Mereka menegaskan bahwa bantuan malaikat adalah bukti kekuasaan Allah yang nyata (Masyi'ah) yang selaras dengan kebijaksanaan-Nya (Hikmah). Keduanya sepakat bahwa ayat-ayat dalam Al-Anfal memperkokoh akidah bahwa tidak ada kekuatan kecuali dengan izin Allah.

Keutamaan Membaca Surat Al-Anfal

Meskipun hadis-hadis tentang keutamaan surat tertentu harus dipilah secara kritis, para ulama menyebutkan beberapa fadhilah membaca dan merenungi Surat Al-Anfal. Pertama, terhindar dari Sifat Nifak. Imam As-Sadiq menyebutkan bahwa siapa yang membaca Al-Anfal dan At-Taubah setiap bulan, sifat kemunafikan tidak akan masuk ke dalam hatinya.

Kedua, mendapat syafaat. Pembaca Al-Anfal akan mendapatkan pembelaan dan syafaat di hari kiamat sebagai saksi bahwa ia terbebas dari sifat nifak. Ketiga, menjadi penguat mental karena ayat-ayatnya memberikan ketenangan dan keberanian bagi umat Islam yang sedang menghadapi ujian atau tekanan.

Implementasi Nilai Al-Anfal

Pada aspek spiritual, surat ini mengajarkan peningkatan kekhusyukan saat mendengar azan atau ayat Al-Qur'an agar hati bergetar (implementasi ayat 2). Pada aspek sosial, nilai yang diterapkan adalah menjaga amanah dalam pembagian hak atau harta yang bukan milik pribadi, serta mengutamakan kepentingan umum.

Secara mental, umat Islam didorong menanamkan sifat tawakal setelah melakukan usaha maksimal (ikhtiar) dalam menghadapi tantangan hidup. Sementara secara intelektual, nilai ini diwujudkan dengan mempelajari sejarah perjuangan Rasulullah SAW untuk memahami bahwa kemenangan memerlukan strategi dan kesabaran.

Melalui kacamata ulama Asy'ariyah dan Maturidiyah, umat diajarkan bahwa setiap keberhasilan adalah perpaduan antara usaha manusia (kasb) dan ketetapan mutlak Allah SWT. Memahami asbabun nuzul dan kandungan pokoknya akan menjauhkan diri dari sifat sombong saat menang dan sifat putus asa saat menghadapi ujian berat.

Artikel terkait

Rekomendasi