PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) resmi melakukan transformasi identitas dengan mengubah nama perusahaan menjadi PT MDS Retailing Tbk guna memperluas jangkauan bisnis di industri ritel. Keputusan strategis ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (15/4/2026) dengan dukungan mayoritas pemegang saham.
Langkah perubahan nama ini dilansir dari Money sebagai upaya perusahaan dalam menghadapi dinamika persaingan industri ritel yang semakin ketat. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangannya mengenai pergeseran arah bisnis emiten berkode saham LPPF tersebut.
"Perubahan dari Matahari menjadi MDS Retailing menunjukkan adanya ambisi untuk bergerak lebih luas, tidak hanya terbatas pada format department store, tetapi juga memperkuat penetrasi ke segmen lifestyle," ujar Nafan, Sabtu (18/4/2026).
Nafan menjelaskan bahwa penambahan kata retailing mencerminkan spesialisasi baru pada produk gaya hidup dan mode dengan segmentasi yang lebih spesifik. Dari sisi investasi, ia menilai saham perusahaan masih memiliki daya tarik yang kuat bagi para pemodal bursa.
"Dividend yield-nya berpotensi mencapai dua digit, sekitar 12 hingga 13 persen, ini jelas lebih tinggi dibandingkan bunga deposito perbankan saat ini," jelas Nafan.
Kinerja perusahaan pada kuartal pertama 2026 turut didukung oleh momentum Idulfitri yang jatuh pada bulan Maret lalu. Meski demikian, terdapat sejumlah risiko ekonomi makro yang perlu diperhatikan seperti nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.000 per dollar AS serta tingginya angka inflasi domestik.
"Kalau daya beli melemah, tentu akan berdampak pada kinerja ritel. Karena itu, efisiensi menjadi kunci agar perusahaan tetap sustainable ke depan," kata Nafan.
Sektor ritel nasional secara umum menunjukkan ketahanan dengan indeks penjualan riil yang tumbuh pada kisaran 5,7 hingga 6,5 persen. Nafan berpendapat angka pertumbuhan tersebut merupakan sinyal positif meskipun emiten harus tetap waspada terhadap normalisasi konsumsi setelah masa Lebaran berakhir.
"Indeks penjualan riil di kisaran 5,7 sampai 6,5 persen ini menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Tantangannya adalah bagaimana emiten bisa menjaga momentum di tengah normalisasi konsumsi pasca-Lebaran," ujar Nafan.
Nafan juga menyoroti perbedaan kondisi antar emiten, di mana perusahaan yang menyasar segmen menengah ke atas dinilai lebih tangguh dibandingkan segmen menengah ke bawah. Ia pun menyebutkan beberapa nama emiten lain yang masih aktif melakukan ekspansi maupun menghadapi isu efisiensi operasional.
"Untuk emiten seperti ACES atau MAPI, masih ada isu efisiensi. Tapi MAPI relatif lebih resilient karena menyasar segmen menengah ke atas," jelas Nafan.
Kondisi moneter di masa mendatang diharapkan dapat memberikan stimulus bagi daya beli masyarakat melalui potensi pelonggaran kebijakan. Namun, untuk periode saat ini, para pelaku di sektor ritel disarankan untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam operasional bisnis mereka.
"Kalau ke depan ada pelonggaran kebijakan moneter, itu bisa menjadi katalis positif untuk meningkatkan daya beli. Tapi untuk saat ini, sektor ritel masih harus berhati-hati," tegas Nafan.
Pergerakan harga saham LPPF pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026) mencatatkan kenaikan sebesar 1,3 persen menuju level Rp 1.950 per saham. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, harga saham perusahaan ritel ini telah mengalami kenaikan signifikan mencapai 11,1 persen.