PT Master Print Tbk (PTMR) memproyeksikan kinerja penjualan tetap stabil pada tahun 2026 melalui langkah efisiensi operasional dan penyesuaian strategi usaha di tengah dinamika pasar. Langkah ini dibarengi dengan pematangan sederet aksi korporasi strategis mulai dari akuisisi hingga divestasi.
Dilansir dari Investor Daily, emiten berkode saham PTMR tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp127,11 miIiar sepanjang tahun 2025, atau turun tipis 1,33 persen secara tahunan akibat pelemahan segmen consumables. Perseroan juga membukukan rugi usaha sebesar Rp27,81 miliar serta rugi bersih sebelum penyesuaian sebesar Rp26,04 miIiar.
Direktur Utama Master Print, Ardi Kusuma menjelaskan bahwa manajemen berkomitmen menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan di tengah tantangan ekonomi.
"Perseroan optimistis dapat menjaga keberlangungan usaha melalui pengelolaan operasional yang efektif, penyesuaian strategi sesuai kebutuhan pasar, serta konsistensi dalam memberikan layanan kepada pelanggan," ujar Ardi Kusuma, Direktur Utama Master Print.
Menghadapi tahun 2026, PTMR menargetkan stabilitas operasional dengan memperkuat pengendalian internal dan mengoptimalkan sumber daya manusia demi efisiensi proses bisnis.
"Langkah ini dilakukan agar perseroan tetap relevan, kompetitif, serta mampu merespons perubahan kondisi industri dan dinamika perdagangan secara lebih adaptif," kata Ardi Kusuma, Direktur Utama Master Print.
Sebagai bagian dari pengembangan usaha, PTMR berencana mengubah arah bisnis menjadi perusahaan induk atau holding company. Transformasi ini menyusul rencana akuisisi 76,42 persen saham perseroan oleh Deep Source Ptd Ltd (DS) dari PT Mitra Pack Tbk (PTMP) senilai Rp141,45 miliar.
Rangkaian restrukturisasi ini juga mencakup rencana akuisisi 49 persen saham PT Sinar Laksana Nusantara (SLN) milik Darmawan Wangsa. Setelah itu, PTMR akan mengalihkan seluruh bisnis bersihnya senilai Rp61,35 miliar dan menjual kepemilikan saham di PT Global Putra Kusuma (GPK) senilai Rp26,9 miliar kepada PTMP.
Seluruh rencana transaksi material dan afiliasi tersebut dijadwalkan untuk dimintakan persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB dan RUPS Independen pada 19 Juni 2026.