Maskapai Nigeria Ancam Hentikan Operasional Akibat Lonjakan Harga Bahan Bakar

Maskapai Nigeria Ancam Hentikan Operasional Akibat Lonjakan Harga Bahan Bakar
Foto: Ilustrasi Maskapai Nigeria Ancam Hentikan Operasional Akibat Lonjakan Harga Bahan Bakar.

Asosiasi Operator Maskapai Penerbangan Nigeria (AON) mengancam akan menghentikan seluruh operasional penerbangan domestik mulai Senin, 20 April 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk protes terhadap lonjakan harga bahan bakar jet yang dinilai tidak wajar oleh para pelaku industri di negara tersebut.

Dilansir dari Detik Travel, pihak asosiasi menuding adanya praktik manipulasi harga yang dilakukan oleh para pemasar bahan bakar di Nigeria. AON melaporkan bahwa harga bahan bakar jet telah mengalami kenaikan drastis sekitar 270 persen sejak akhir Februari lalu.

Kekhawatiran ini disampaikan secara resmi melalui surat kepada Asosiasi Pemasar Energi Utama Nigeria (MEMAN) pada 14 April. Berdasarkan data regulator produk minyak bumi, sektor penerbangan Nigeria menghabiskan sekitar 2,1 juta liter bahan bakar jet setiap harinya selama bulan lalu.

"Saat ini, pendapatan maskapai penerbangan tidak cukup untuk menutupi biaya bahan bakar saja," kata surat itu.

Asosiasi tersebut menyatakan bahwa kenaikan harga yang terjadi jauh melampaui pergerakan harga minyak mentah global. AON juga menyoroti risiko ekonomi jika operasional terhenti, termasuk potensi pemutusan hubungan kerja dan gangguan pada sektor perbankan.

"Sangat tinggi dan artifisial," sebut AON dalam surat tersebut mengenai kenaikan harga di negara terpadat di Afrika itu.

Di sisi lain, MEMAN secara tegas membantah klaim mengenai angka-angka yang diajukan oleh pihak maskapai. Pihak pemasar menyatakan bahwa distribusi bahan bakar jet memerlukan penanganan khusus yang memengaruhi struktur harga di pasar.

Tanggapan MEMAN yang dilihat oleh Reuters menyebutkan bahwa harga yang dikutip oleh AON berada 40 persen di atas rata-rata pasar. Mereka menambahkan bahwa peralatan khusus dalam distribusi membuat bahan bakar jenis ini memang lebih mahal dibandingkan komoditas lainnya.

Krisis ini menempatkan maskapai Afrika dalam posisi rentan karena biaya bahan bakar menyumbang 30 hingga 40 persen dari total pengeluaran operasional. Angka ini jauh di atas rata-rata global yang biasanya hanya berkisar antara 20 hingga 25 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi