Konsumsi Makanan Ultra Proses Picu Penumpukan Lemak dalam Otot Paha

Konsumsi Makanan Ultra Proses Picu Penumpukan Lemak dalam Otot Paha
Foto: Ilustrasi Konsumsi Makanan Ultra Proses Picu Penumpukan Lemak dalam Otot Paha.

Penelitian terbaru dalam jurnal Radiology yang dipublikasikan pada Minggu, 19 April 2026, mengungkapkan bahwa konsumsi makanan ultra proses (UPF) secara berlebih berkaitan erat dengan peningkatan kadar lemak di dalam otot paha. Temuan ini didapat setelah para peneliti melakukan analisis terhadap hasil MRI milik 615 partisipan dalam studi Osteoarthritis Initiative di Amerika Serikat.

Dilansir dari Detik Health, pemindaian pada individu dengan asupan UPF tinggi menunjukkan garis-garis lemak halus yang menyerupai marbling pada daging sapi. Akumulasi lemak intramuskular ini ditemukan pada subjek yang mengonsumsi sereal, permen, serta minuman manis sebagai sumber kalori utama mereka.

"Pola makan peserta ini sebagian besar terdiri dari sereal, permen cokelat atau batangan, minuman bersoda, atau minuman manis dalam kemasan," kata Zehra Akkaya, peneliti sekaligus konsultan di kelompok riset pencitraan muskuloskeletal klinis dan translasional di University of California San Francisco, dikutip dari CNN.

Akkaya menjelaskan bahwa keberadaan lemak yang tersembunyi di antara serat otot tersebut merupakan indikator masalah kesehatan yang serius bagi manusia. Infiltrasi lemak ini juga berkaitan dengan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, kanker, dan gangguan kardiovaskular.

"Garis-garis lemak tersembunyi di antara dan di dalam serat otot dapat menjadi tanda masalah kesehatan serius," kata Akkaya.

Penelitian tersebut menyoroti kasus seorang perempuan berusia 62 tahun dengan asupan UPF mencapai 87 persen yang menunjukkan kerusakan kualitas otot signifikan. Kondisi serupa, namun dalam skala lebih ringan, ditemukan pada partisipan berusia 61 tahun yang mengonsumsi 29 persen makanan ultra proses.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena individu-individu ini, yang saat menjalani CT Scan belum menunjukkan tanda osteoarthritis lutut, sudah mengalami penurunan kualitas otot," kata Akkaya.

Kelemahan otot paha akibat lemak ini menjadi faktor pemicu utama osteoarthritis lutut karena berkurangnya stabilitas sendi. Saat tonus otot menurun, tekanan mekanis pada lutut akan meningkat drastis, terutama pada kelompok orang dengan obesitas.

"Otot paha sangat penting untuk stabilitas sendi lutut. Jika kekuatan atau tonusnya menurun, tekanan mekanis pada sendi meningkat, terutama pada individu obesitas," jelas Akkaya.

Miriam Bredella dari NYU Langone Health menambahkan bahwa fenomena infiltrasi lemak ini bersifat sistemik dan tidak terbatas pada area paha saja. Kondisi ini dapat memengaruhi otot betis, perut, hingga bahu yang kemudian berdampak pada proses pemulihan medis pasien.

"Ini bukan hanya terjadi di paha. Otot lain seperti betis, bahu, dan perut juga bisa mengalami kondisi serupa," ujarnya.

Bredella menekankan bahwa pada pasien rumah sakit, kelemahan otot akibat lemak ini dapat memperlama durasi rawat inap. Selain itu, kondisi tersebut menjadi indikator buruk bagi hasil pengobatan pasien pascaoperasi atau penderita kanker.

"Pada pasien rumah sakit, kelemahan otot bisa memperpanjang masa rawat. Pada pasien operasi, ini menjadi prediktor buruk untuk hasil pengobatan," tambahnya.

Data penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar lemak intramuskular tetap terjadi secara signifikan seiring bertambahnya konsumsi UPF, tanpa dipengaruhi oleh total jumlah kalori yang masuk ke tubuh. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Thomas Link mengenai korelasi kuat antara jenis makanan tersebut dengan kualitas otot.

"Terlepas dari jumlah kalori, semakin banyak makanan UPF yang dikonsumsi, semakin banyak lemak intramuskular yang ditemukan," kata Thomas Link.

Meski kondisi ini mengkhawatirkan, para ahli menyatakan bahwa kualitas otot masih dapat diperbaiki melalui perubahan gaya hidup yang drastis. Olahraga rutin dan penerapan pola makan sehat terbukti mampu meningkatkan kembali kualitas serat otot yang sempat menurun.

"Jika seseorang mulai berolahraga dan makan lebih sehat, kualitas otot bisa membaik," kata Bredella.

Artikel terkait

Rekomendasi