Mahasiswa IPB dan Unpad Hadirkan Solusi Inovatif di Desa Wisata Gunung Padang

Mahasiswa IPB dan Unpad Hadirkan Solusi Inovatif di Desa Wisata Gunung Padang
Foto: Ilustrasi Mahasiswa IPB dan Unpad Hadirkan Solusi Inovatif di Desa Wisata Gunung Padang.

Desa Wisata Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, sedang menghadapi berbagai tantangan sosial, kesehatan, dan lingkungan di tengah peningkatan aktivitas pariwisata. Kawasan yang masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 ini kini menjadi lokasi implementasi program Genera-Z Berbakti 2026.

Dikutip dari Media Indonesia, program tersebut mempertemukan mahasiswa dari IPB University dan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk menghadirkan solusi inovatif bagi masyarakat setempat. Langkah ini diambil guna mengatasi sejumlah persoalan nyata yang dihadapi oleh warga desa.

Situs Gunung Padang sendiri merupakan kawasan punden berundak prasejarah terbesar di Asia Tenggara yang merepresentasikan jejak peradaban manusia sejak sekitar 3.000 tahun lalu. Selain bertumpu pada sektor pertanian dan pariwisata, masyarakat desa mulai mengembangkan ekonomi kreatif serta produk UMKM seiring melonjaknya angka kunjungan wisatawan.

Namun, di balik potensi sejarah dan wisatanya yang besar, masyarakat masih menghadapi kendala kesehatan seperti tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penemuan kasus pneumonia pada bayi. Masalah lingkungan juga membayangi akibat pengelolaan sampah yang belum optimal serta adanya warga yang buang air besar di sungai karena keterbatasan toilet.

Tantangan lain yang muncul meliputi pengelolaan limbah pariwisata yang belum maksimal, belum tersedianya taman baca tingkat desa, kebutuhan pelatihan pemasaran UMKM, hingga minimnya fasilitas pembelajaran alat musik tradisional seperti karinding, kacapi suling, dan gendang penca bagi generasi muda.

Melalui program Genera-Z Berbakti 2026, tim mahasiswa IPB University dan Unpad sama-sama memfokuskan proposal mereka pada isu pengelolaan sampah, namun dengan pendekatan yang berbeda. Tim IPB University yang bernama 'Sabilulungan Lestari' menawarkan metode berbasis edukasi masyarakat.

Program usulan tim IPB meliputi Simponik untuk edukasi pemilahan sampah, instalasi mesin pencacah, serta konsep waste to wallet. Mereka juga menghadirkan program Kembara berupa edukasi tanaman obat keluarga (Toga), agroforestri, pelatihan pembuatan energy bar, stasiun pemantauan kualitas udara Sianjur, serta layanan pengecekan kesehatan gratis Sadulur Rahayu.

Sementara itu, Tim Mega Lestari dari Universitas Padjadjaran menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi. Mereka menawarkan revitalisasi 10 toilet berbasis bioseptic tank melalui konsep eco-sanitasi, pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak, hingga pemanfaatan sampah anorganik menjadi suvenir khas daerah.

Tim Unpad juga menggandeng 40 pemuda desa untuk dilatih menjadi eco-tour guide dan menggerakkan eco-cultural activity. Program ini bertujuan mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus mendorong aktivitas wisata berkelanjutan di kawasan tersebut.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menjelaskan bahwa Genera-Z Berbakti dirancang bukan sekadar sebagai ajang kompetisi ide, melainkan sebagai jembatan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat desa.

"Melalui pengabdian masyarakat di desa binaan Bakti BCA ini, inovasi dari para finalis mampu memberikan dampak nyata yang menyelaraskan pelestarian warisan budaya dengan peningkatan kesejahteraan warga lokal," ujarnya.

Kedua tim dijadwalkan mempresentasikan serta menguji gagasan mereka pada babak final Genera-Z Berbakti 2026 yang akan ditayangkan mulai pertengahan Juni melalui kanal YouTube resmi BCA dan mitra program. Masyarakat dapat memberikan dukungan kepada tim favorit lewat pemungutan suara Fan Favourite Team di akun Instagram resmi BCA hingga 5 Juli 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi