Kemacetan lalu lintas di kawasan Sawangan, Kota Depok, terpantau masih sangat padat pada Kamis (19/2/2026) sore hingga memicu munculnya istilah sindiran Sawangan Kubro dan Sawangan Sugro di kalangan warganet. Kondisi ini dipicu oleh beban kendaraan yang melebihi kapasitas jalan pasca beroperasinya akses Tol Depok-Antasari.
Dilansir dari Megapolitan, pembagian istilah tersebut merujuk pada arah kendaraan setelah keluar dari pintu Tol Sawangan. Pengendara yang berbelok ke kanan menuju arah Parung Bingung memasuki wilayah Sawangan Kubro yang dikenal dengan kemacetan ekstrem, sementara arah sebaliknya menuju Mampang disebut Sawangan Sugro.
Kondisi kepadatan di ruas Sawangan Kubro meliputi Jalan Raya Sawangan, pertigaan Jalan Raya Keadilan, hingga Bojongsari. Meski wilayah Sawangan Sugro juga mengalami kendala serupa, tingkat kepadatannya dinilai lebih ringan dibandingkan jalur utama menuju Parung.
Seorang pengguna media sosial Threads mengungkapkan keluhannya terkait durasi kemacetan yang dianggap tidak wajar bagi penduduk setempat.
"Gue dari Depok Timur, main ke Parung lewat Jalan Muchtar, kayaknya enggak bisa kalau tiap hari lewat situ. Semacet-macetnya Depok Timur paling di awal bulan saja," tulis pengguna Threads @aldinbeibs.
Komentar lain menyoroti bahwa kepadatan kendaraan di jalur tersebut tidak mengenal waktu dan sering bertahan hingga larut malam tanpa penyebab insiden tertentu.
"Kadang jam 11 malam saja macetnya masih luar biasa banget, padahal tidak ada apa-apa, memang padat saja. Pernah jam 12 malam keluar tol masih macet. Macet karena apa? Ya tidak ada apa-apa, macet saja," tulis akun @diananoni23.
Fenomena kemacetan panjang ini juga memberikan dampak psikologis bagi para penyedia jasa transportasi daring yang kerap melintasi kawasan tersebut.
"Kalau naik GrabCar, sopirnya pada trauma habis nganter," tulis @addemita13.
Pengamat tata kota, M. Aziz Muslim, menjelaskan bahwa pertumbuhan hunian yang pesat sejak tahun 2000-an menjadi akar masalah kepadatan di Jalan Raya Sawangan hingga Jalan Raya Muchtar. Lonjakan volume kendaraan tidak dibarengi dengan perluasan infrastruktur jalan yang memadai.
"Volume kendaraannya cukup banyak, apalagi di sana ada banyak kantong perumahan dari berbagai kelas. Kawasan Sawangan memang berkembang pesat sebagai wilayah hunian," ujar Azis kepada Kompas.com, Senin (13/4/2026).
Azis menambahkan bahwa operasional pintu keluar Tol Sawangan menjadi faktor krusial yang memperburuk situasi lalu lintas di jalur yang semula merupakan jalur distribusi perkebunan tersebut.
"Setelah exit Tol Sawangan berfungsi, volume kendaraan semakin tinggi," kata dia.
Ketidakmampuan infrastruktur lama dalam menampung arus kendaraan modern menjadi catatan penting dalam pengelolaan tata kota di wilayah penyangga Jakarta ini.
"Kapasitas Jalan Raya Sawangan tidak mampu menampung kendaraan yang lewat," ujarnya.