Gangguan fungsi pada tiga bagian utama otak menjadi penyebab munculnya rasa cemas hingga panik berlebih pada korban pelecehan seksual. Penjelasan medis ini disampaikan oleh psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ pada Selasa (14/4/2026) guna meluruskan persepsi masyarakat terhadap kondisi psikologis penyintas.
Perubahan biologis tersebut terjadi pada area amygdala, hippocampus, dan prefrontal cortex akibat luka psikologis yang mendalam. Dilansir dari Detik Health, kondisi tersebut membuat otak bekerja secara berbeda dibandingkan kondisi normal sebelum terjadinya peristiwa traumatis.
Dr Lahargo menjelaskan bahwa amygdala atau pusat emosi cenderung mengalami peningkatan sensitivitas setelah kejadian traumatis berlangsung.
"Pada luka psikologis, amygdala sering menjadi hiperaktif atau terlalu sensitif. Artinya, otak menjadi lebih cepat menangkap situasi sebagai ancaman, meskipun sebenarnya sudah aman," kata dr Lahargo, Psikiater.
Respons waspada yang berlebihan ini merupakan dampak langsung dari kegagalan sistem saraf dalam mengenali situasi yang sudah kondusif.
"Ini menjelaskan mengapa korban sering merasa siaga terus-menerus (hypervigilance)," sambung dr Lahargo.
Selain amygdala, bagian hippocampus yang bertanggung jawab mengelola memori juga mengalami disfungsi. Hal ini menyebabkan batasan antara kejadian masa lalu dan realitas saat ini menjadi kabur bagi para korban.
"Akibatnya, memori luka terasa seperti terjadi lagi saat ini, bukan sesuatu yang sudah lewat. Itulah sebabnya korban bisa mengalami flashback, intrusive thoughts, mimpi buruk, dan terus mengingat kejadian," terang dr Lahargo.
Gangguan pada hippocampus menghilangkan kemampuan otak untuk memberikan label waktu pada ingatan buruk yang tersimpan.
"Secara neurobiologis, hippocampus membantu berkata 'itu sudah lewat'. Saat terganggu akibat peristiwa traumatis, otak sulit memisahkan: mana memori yang sudah lewat dan mana realita saat ini," jelas dr Lahargo.
Penurunan aktivitas juga terdeteksi pada prefrontal cortex yang merupakan pusat kendali logika dan emosi di bagian depan otak manusia.
"Pada stres atau trauma berat, aktivitas area ini sering menurun. Akibatnya seseorang menjadi lebih sulit berpikir jernih, mengambil keputusan, mengontrol emosi, menenangkan diri," kata dr Lahargo.