Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan melaporkan kondisi perekonomian Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (21/4/2026). Dilansir dari Kompas, hasil simulasi menunjukkan ketahanan ekonomi nasional diprediksi tetap terjaga selama tiga bulan ke depan.
Pertemuan tersebut membahas kekuatan fundamental ekonomi serta langkah-langkah strategis pemerintah dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu. Pemerintah saat ini fokus pada penguatan sektor-sektor kunci demi memastikan kestabilan pertumbuhan di tengah tantangan internasional.
"Berdasarkan simulasi komprehensif yang kami lakukan, kondisi perekonomian kita dalam tiga bulan ke depan masih sangat aman dan terjaga. Fundamental ekonomi kita kuat," kata Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional.
Luhut menegaskan adanya penyusunan berbagai skenario kebijakan sebagai langkah mitigasi risiko jika ketegangan geopolitik dunia berlanjut. Fokus utama mitigasi tersebut mencakup antisipasi terhadap potensi kenaikan harga energi global yang dapat memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) domestik.
Selain masalah energi, pemerintah menaruh perhatian besar pada kelancaran rantai pasok komoditas strategis. Komoditas seperti sulfur menjadi sangat penting karena perannya dalam keberlanjutan program hilirisasi nikel serta pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.
Mengenai postur keuangan negara, Luhut memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dikelola secara sehat guna memberikan kepastian bagi para pelaku ekonomi.
"Masyarakat dan dunia usaha tidak perlu khawatir, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) masih sangat terkendali," jelas Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional.
Luhut menambahkan bahwa optimalisasi penerimaan negara akan terus dilakukan melalui pemanfaatan momentum harga komoditas ekspor. Pemerintah juga berkomitmen untuk melakukan efisiensi pada pos belanja negara agar sasaran fiskal dapat tercapai sesuai target.
"Defisit akan dijaga di bawah 3 persen melalui efisiensi belanja yang tepat, dan memaksimalkan momentum harga komoditas ekspor untuk memperkuat penerimaan negara," tambah Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional.