Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Bogor pada Rabu (15/4/2026) sore mengakibatkan Sungai Ciparigi meluap dan merendam permukiman padat penduduk di Kelurahan Tegallega, Bogor Tengah. Luapan air tersebut dilaporkan sempat menggenangi rumah warga selama sekitar 1,5 jam sebelum akhirnya berangsur surut pada petang hari.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Megapolitan, bencana banjir ini melanda kawasan pemukiman di dalam gang sempit yang hanya dapat diakses pejalan kaki. Meski air mulai surut, warga masih disibukkan dengan pembersihan sisa lumpur dan evakuasi barang-barang rumah tangga yang mengalami kerusakan akibat terendam air.
Salah satu warga terdampak sempat menunjukkan kerusakan barang elektronik miliknya yang terhempas arus banjir. Di tengah upaya pembersihan, warga juga menemukan bangkai satwa liar yang terbawa arus sungai.
"Ini kulkas sampai terguling tadi, di sana mah lebih parah tuh di sana," kata salah satu warga.
Kondisi di lapangan memperlihatkan warga bahu-membahu menyingkirkan material banjir dari dalam hunian mereka. Beberapa warga terlihat mengevakuasi sisa air yang masih terjebak di ruangan sempit.
"Dapet biawak, dapat biawak, tapi sudah mati," ucap salah satu warga.
Budi (51), warga lainnya, memberikan kesaksian bahwa intensitas hujan mulai meningkat tajam sejak pukul 15.00 WIB. Pria yang berprofesi sebagai pekerja proyek ini mengaku banjir kali ini termasuk yang paling parah dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya.
"Tadi jam 15.00 WIB, mulai hujan nih. Satu jam setengah lah (mulai surut)," ungkap Budi.
Budi menjelaskan bahwa dirinya sedang bekerja saat air mulai meninggi hingga mencapai leher orang dewasa. Ia segera berlari menuju rumah untuk menyelamatkan harta benda setelah mendapat informasi dari anggota keluarganya.
"Lagi kerja saya di proyek di situ ya langsung lari saja biasa kalau hujan hujan gede pasti banjir. Wah, udah segini, saya lari-larian," kata Budi.
Budi memperkirakan ketinggian air di dalam rumahnya mencapai 130 sentimeter. Luapan sungai tersebut merendam seluruh ruangan rumah tanpa terkecuali.
"Segini, iya semua ini mah (ruangan rumahnya terdampak). Sering banjir, tapi ini paling parah," lanjut Budi.
Dampak banjir juga dirasakan oleh Hadi (37) yang melaporkan bahwa dokumen penting seperti ijazah miliknya ikut terendam air meski telah disimpan di dalam map plastik. Ketinggian air di kediaman Hadi tercatat mencapai 80 sentimeter atau setinggi pinggang orang dewasa.
"Ini juga pulang kerja, langsung ke sini ngedenger kabar dari orang rumah. Hampir sepinggang," ungkap Hadi.
Berbagai perabotan rumah tangga seperti kasur dan lemari milik Hadi mengalami kerusakan akibat rendaman air sungai. Ia berencana melakukan penanganan darurat terhadap dokumen sekolahnya yang basah.
"Sebagian ada yang di laminating, sebagian engga. Ijazah sekolah SMA, paling nanti dijemur aja. Soalnya ditaruh di map plastik tapi kena rendeman air," tutur Hadi.
Pemerintah setempat melalui Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, mengonfirmasi bahwa dampak banjir luapan Sungai Ciparigi mencakup lima wilayah Rukun Warga (RW). Wilayah tersebut meliputi RW 3, RW 4, RW 5, RW 7, dan RW 8.
"Rumah yang terdampak ada 80 rumah yang terbagi di 5 RW (RW 3, RW 4, RW 5, RW 7 dan RW 8)," ungkap Hardi.
Hardi mengidentifikasi penyempitan aliran sungai sebagai penyebab utama banjir di pemukiman tersebut. Menurutnya, keberadaan bangunan di bantaran sungai membuat kapasitas saluran tidak mampu menampung peningkatan debit air saat hujan ekstrem.
"Sungainya sudah mengecil dan juga banyaknya bangunan-bangunan yang ada di atas sungai ya otomatis tadi namanya air kan kita enggak bisa nahan. Air mah ada dijalurnya," jelas Hardi.