Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti penurunan tajam indeks literasi nasional tepat pada peringatan Hari Buku Nasional yang jatuh pada Minggu (17/5/2026). Penurunan kemampuan membaca ini dinilai memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap ekosistem literasi di Indonesia demi menyelamatkan peradaban bangsa.
"Kemampuan literasi masyarakat yang baik merupakan salah satu penanda bahwa suatu bangsa itu memiliki peradaban yang maju," ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/5).
Kondisi literasi di tanah air saat ini tengah menghadapi alarm bahaya berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai sumber otoritatif, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia. Indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia dilaporkan merosot tajam dari angka 72,44 pada tahun 2024 menjadi hanya 54,80 pada tahun 2025.
Selain penurunan indeks, durasi membaca masyarakat Indonesia juga sangat rendah karena rata-rata hanya mencapai 129 jam per tahun. Angka ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan durasi membaca masyarakat India yang mencapai 352 jam dan Amerika Serikat yang menyentuh angka 357 jam per tahun.
Krisis kognitif juga melanda sektor pendidikan setelah Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan kemampuan inferensial siswa baru mencapai 43,21%. Sementara itu, tingkat kemampuan evaluasi teks siswa di dalam negeri dilaporkan baru menyentuh angka 45,32%.
"Tantangan kita bukan lagi sekadar memberantas buta aksara, tetapi menciptakan masyarakat yang mampu berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi," tegas Lestari Moerdijat terkait rendahnya kemampuan inferensial siswa.
Meskipun data nasional memprihatinkan, tren positif justru ditunjukkan oleh aktivitas membaca Generasi Z berdasarkan Survei GoodStats semester II 2025. Aktivitas membaca Gen Z tercatat mencapai 26%, lebih tinggi daripada generasi Milenial sebesar 20% dan Gen X yang berada di angka 18%.
Guna mendukung tren positif para pemuda, Anggota Komisi X DPR RI tersebut mengusulkan empat langkah strategis yang mencakup revitalisasi komunitas baca, reformasi pendidikan, peningkatan aksesibilitas perpustakaan daerah, hingga intervensi ekonomi berupa penghapusan pajak buku.
"Jika generasi penerus tak mampu menelaah informasi melalui kemampuan literasinya, hal itu berpotensi menggerus kedaulatan bangsa," pungkas Lestari Moerdijat yang juga menjabat sebagai Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem.