Laba Bersih Vale Indonesia Melonjak Dua Kali Lipat Kuartal I/2026

Laba Bersih Vale Indonesia Melonjak Dua Kali Lipat Kuartal I/2026
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Vale Indonesia Melonjak Dua Kali Lipat Kuartal I/2026.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan lonjakan laba bersih hingga dua kali lipat menjadi US$43,61 juta atau setara Rp757,54 miliar pada kuartal I/2026. Capaian ini meningkat 100,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$21,79 juta, sebagaimana dilaporkan pada Senin (4/5/2026).

Kenaikan laba emiten pertambangan nikel tersebut dipicu oleh pertumbuhan pendapatan yang mencapai US$252,66 juta, atau naik 23,34 persen secara tahunan. Dilansir dari Market, performa finansial ini tetap tumbuh meski volume produksi nikel matte menyusut dari 17.027 metrik ton menjadi 13.620 metrik ton.

CEO Vale Indonesia Bernardus Irmanto menjelaskan bahwa penurunan operasional tersebut merupakan dampak dari rencana optimalisasi pemeliharaan aset perusahaan. Salah satu fokus utama adalah pengerjaan kembali Furnace 3 yang diproyeksikan rampung pada semester pertama tahun ini.

"Terlepas dari tantangan operasional, kami menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan," pungkas Bernardus.

Selain efisiensi, penguatan kinerja INCO didorong oleh dimulainya operasional pada tiga blok tambang secara serentak di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Perusahaan tercatat telah merealisasikan belanja modal sebesar US$139,0 juta sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026 untuk mendukung ekspansi tersebut.

"Kami memperluas portofolio komersial melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan," ucap Bernardus.

Faktor eksternal berupa kenaikan harga nikel dunia turut memberikan kontribusi positif terhadap margin perusahaan. Vale Indonesia mencatat harga rata-rata realisasi nikel matte berada pada level US$14.213 per metrik ton, mengalami kenaikan sebesar 15 persen dari kuartal sebelumnya.

Meskipun beban pokok pendapatan naik 4,77 persen menjadi US$195,92 juta, efisiensi penggunaan bahan bakar fosil dan batu bara mampu menjaga biaya tunai per unit tetap stabil. Hingga akhir Maret 2026, total aset perusahaan tercatat mencapai US$3,34 miliar dengan posisi kas sebesar US$220,11 juta.

Sebagai langkah memperkuat struktur keuangan berkelanjutan, perseroan juga telah menandatangani kesepakatan Sustainability-Linked Loan (SLL). Fasilitas pinjaman senilai US$750 juta tersebut ditandatangani oleh manajemen perusahaan pada 23 April 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi