Laba Bersih Tower Bersama Infrastructure Naik Jadi Rp 1,42 Triliun

Laba Bersih Tower Bersama Infrastructure Naik Jadi Rp 1,42 Triliun
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Tower Bersama Infrastructure Naik Jadi Rp 1,42 Triliun.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 1,42 triliun sepanjang 2025, mengalami kenaikan sebesar 4,78% secara tahunan (yoy). Pencapaian ini diraih perusahaan di tengah tantangan penurunan kontrak sewa menara baru akibat dampak penggabungan usaha antara XL Axiata dan Smartfren atau XLSmart.

Berdasarkan data yang dilansir dari Investortrust, pertumbuhan laba bersih tersebut didorong oleh pendapatan perseroan yang mencapai Rp 6,91 triliun atau tumbuh tipis 0,61% dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) TBIG tercatat sebesar Rp 5,94 triliun pada periode yang berakhir 31 Desember 2025.

Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure, Helmy Yusman Santoso memberikan rincian lebih lanjut mengenai proyeksi kinerja tahunan tersebut berdasarkan hasil kuartal terakhir. Jika hasil kuartal IV-2025 disetahunkan, maka total pendapatan dan EBITDA masing-masing diproyeksikan menyentuh angka Rp 6,98 triliun dan Rp 5,97 triliun.

"Secara umum, pertumbuhan tipis kinerja keuangan perusahaan beriringan dengan menurunnya jumlah kontrak sewa baru tahun lalu," kata Helmy, Rabu (1/4/2026).

Perseroan menyatakan bahwa infrastruktur yang dikelola memiliki stabilitas pendapatan jangka panjang. Hal ini didukung oleh struktur kontrak yang biasanya memiliki durasi cukup lama di sektor telekomunikasi.

"Kami membangun aset infrastruktur jangka panjang yang didukung oleh pendapatan kontrak selama 10 tahun, sehingga menghasilkan arus kas yang dapat diprediksi dan berulang," jelas Helmy.

Meskipun terdapat pertumbuhan, manajemen tetap memantau komposisi utang perusahaan yang hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp 29,25 triliun setelah lindung nilai. Sekitar 60% dari total pinjaman tersebut merupakan instrumen dalam mata uang rupiah.

"Kami terus mengakses berbagai sumber modal di pasar rupiah dan dolar AS," ujar Helmy.

Wakil Direktur Utama Tower Bersama Infrastructure, Hardi Wijaya Liong memaparkan posisi portofolio perusahaan yang hingga akhir 2025 mencakup 24.321 site telekomunikasi. Dari total tersebut, terdapat 41.783 penyewaan pada menara telekomunikasi yang menghasilkan rasio kolokasi sebesar 1,73.

"Pada 2025, kami menambahkan 1.280 penyewaan kotor yang terdiri atas 797 site telekomunikasi dan 483 kolokasi ke portofolio kami," terang Hardi.

Kinerja penyewaan bersih perusahaan mengalami tekanan menyusul terbentuknya entitas XLSmart pada Maret 2025. Proses penggabungan tersebut memicu adanya beberapa kontrak sewa menara yang tidak diperpanjang oleh penyewa setelah masa berlakunya selesai.

"Alhasil, jumlah penambahan kontrak sewa bersih turun pada 2025," imbuh Hardi.

Terkait kondisi keuangan, TBIG melaporkan saldo kas pada akhir 2025 berada pada posisi Rp 748 miliar. Dengan posisi kas tersebut, total pinjaman bersih perseroan tercatat sebesar Rp 28,5 triliun dengan rasio pinjaman bersih terhadap EBITDA sebesar 4,8 kali.

Artikel terkait

Rekomendasi