PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 78,28 persen menjadi US$6,76 juta pada kuartal I/2026 yang diumumkan Kamis (7/5/2026). Perolehan tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$3,79 juta.
Pencapaian laba tersebut didorong oleh pendapatan perseroan yang tumbuh 20,53 persen hingga mencapai US$114,94 juta pada akhir Maret 2026, dilansir dari Market. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas penerbangan global dan percepatan pemulihan penggunaan armada pesawat nasional.
Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi menjelaskan bahwa capaian awal tahun ini merupakan hasil dari penguatan fundamental bisnis pemeliharaan pesawat (MRO). Peningkatan kebutuhan layanan perawatan di pasar domestik dan internasional menjadi motor penggerak utama kinerja perseroan.
"Pertumbuhan laba dan pendapatan pada awal tahun ini mencerminkan momentum penguatan bisnis GMF yang semakin solid," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (7/5/2026).
Ekspansi pasar internasional terus diperkuat melalui kerja sama dengan pelanggan baru asal Korea Selatan seperti Airzeta dan T-Way. Selain itu, GMF telah menyelesaikan proyek global mencakup perawatan pesawat A330 milik Korean Air serta penggantian roda pendarat bagi Fiji Airways.
Di sektor domestik, perseroan berhasil melakukan perombakan total mesin CFM56-5B milik Citilink secara mandiri untuk pertama kalinya. Proyek yang didukung oleh pendanaan Danantara tersebut bertujuan meningkatkan kesiapan operasional armada di bawah naungan Garuda Indonesia Group.
GMF juga melakukan diversifikasi pendapatan melalui jasa keteknikan non-penerbangan, seperti pengerjaan proyek normalisasi pembangkit listrik milik PLN Batam. Upaya perluasan jangkauan pasar global turut didukung dengan perolehan sertifikasi baru dari otoritas penerbangan Aruba dan Selandia Baru.
Penguatan struktur modal terlihat dari peningkatan ekuitas yang mencapai US$140,58 juta hingga akhir Maret 2026 dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar US$114,57 juta. Peningkatan ini dipengaruhi oleh akumulasi laba berjalan serta aksi korporasi berupa penerbitan saham baru.
"Kami optimistis momentum pertumbuhan bisnis ini akan terus berlanjut seiring meningkatnya aktivitas penerbangan global dan kebutuhan layanan maintenance yang semakin tinggi," kata Andi.
Secara grup, Garuda Indonesia melaporkan kenaikan pendapatan konsolidasi sebesar 5,36 persen menjadi US$762,35 juta hingga akhir kuartal pertama tahun ini. Jumlah penumpang juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,76 persen menjadi total 5,42 juta orang.
Tren positif ini membantu Garuda Indonesia Group menekan rugi bersih hingga 45,19 persen menjadi US$41,62 juta. Langkah percepatan program pengoperasian kembali armada yang sempat dikandangkan menjadi faktor pendukung stabilitas pemulihan kinerja grup.