Laba Bersih United Tractors Turun 44 Persen pada Kuartal I-2026

Laba Bersih United Tractors Turun 44 Persen pada Kuartal I-2026
Foto: Ilustrasi Laba Bersih United Tractors Turun 44 Persen pada Kuartal I-2026.

PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada kuartal I-2026, mencatat penurunan sebesar 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan kinerja keuangan ini dipicu oleh absennya lini penjualan emas dan pengurangan alokasi rencana kerja komoditas batubara.

Keterangan resmi perusahaan pada Kamis (30/4/2026) yang dilansir dari Investortrust menyebutkan bahwa performa laba bersih yang menyusut dipengaruhi tidak adanya penjualan logam mulia dari PT Agincourt Resources. Faktor lain yang menekan pendapatan adalah penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional untuk tahun 2026.

Perusahaan juga mencatat beban non-recurring sebesar Rp 1,2 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Beban tersebut bersumber dari pembayaran kegiatan kawasan hutan terkait Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) tambang nikel Stargate serta provisi penurunan nilai investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.

Pendapatan bersih emiten berkode UNTR ini ikut terkoreksi sebesar 17 persen secara tahunan menjadi Rp 28,6 triliun dari posisi sebelumnya Rp 34,3 triliun. Penurunan pendapatan ini bersumber dari lini mesin konstruksi dan kontraktor penambangan, meski sebagian tekanan tertahan oleh kenaikan harga rata-rata komoditas batubara termal serta metalurgi.

Berdasarkan rincian segmen usaha, lini kontraktor penambangan menyumbang pendapatan terbesar senilai Rp 11,9 triliun atau turun 6 persen. Lini batubara termal dan metalurgi menghasilkan Rp 8,0 triliun, segmen mesin konstruksi merosot 31 persen menjadi Rp 7,5 triliun, sedangkan pertambangan emas dan mineral lainnya anjlok 76 persen ke posisi Rp 691,6 miliar.

Hingga akhir Maret 2026, posisi utang bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 5,5 triliun dengan net gearing ratio berada di level 5 persen. Posisi ini berbalik dari kondisi kas bersih senilai Rp 7,7 triliun pada akhir Desember 2025 akibat adanya aktivitas akuisisi perusahaan tambang emas baru dan pelaksanaan program pembelian kembali saham.

Artikel terkait

Rekomendasi