PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mengumumkan perolehan laba bersih sebesar Rp17,8 triliun sepanjang tahun 2025 dengan net income margin mencapai 12,1 persen. Capaian finansial tersebut ditopang oleh total pendapatan konsolidasi perseroan yang menembus angka Rp146,7 triliun pada periode yang sama.
Data keuangan perusahaan menunjukkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) konsolidasi berada pada angka Rp72,2 triliun, dilansir dari Market. Perseroan juga mencatat normalized net income sebesar Rp22,7 triliun dengan margin sebesar 15,4 persen sebagai hasil dari efisiensi dan transformasi bisnis.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan bahwa hasil positif ini merupakan buah dari strategi transformasi yang telah dieksekusi secara konsisten oleh manajemen. Hal ini juga dibarengi dengan komitmen memberikan nilai tambah kepada para pemegang saham melalui berbagai kebijakan strategis.
"Hal ini mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi Telkom, yang turut didukung oleh kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham secara konsisten melalui payout ratio sebesar 89% untuk pembayaran tahun buku 2024 serta pelaksanaan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026," kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Dalam laporan operasionalnya, segmen business to consumer (B2C) tetap menjadi mesin utama pertumbuhan pendapatan melalui unit bisnis Telkomsel. Anak usaha tersebut membukukan pendapatan Rp109,2 triliun pada 2025 yang dipicu kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan.
Manajemen memproyeksikan penguatan Average Revenue Per User (ARPU) akan terus berlanjut melalui penyesuaian harga yang presisi dan peningkatan kualitas jaringan. Strategi ini dimaksudkan untuk meminimalisir perpindahan pelanggan di tengah kompetisi pasar yang stabil.
"Langkah ini diiringi dengan penguatan ekosistem digital agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi masyarakat," kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Pada sektor infrastruktur, TelkomGroup memperluas jaringan serat optik hingga lebih dari 210.000 kilometer serta mengembangkan layanan data center dan cloud. Langkah pembangunan ini mencakup konektivitas satelit untuk melayani wilayah-wilayah yang belum terjangkau sinyal telekomunikasi.
"Langkah ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan digital Indonesia yang inklusif," kata Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Pendapatan dari segmen B2B Infrastructure tercatat tumbuh 9,2 persen secara tahunan menjadi Rp8,9 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh operasional dua hyperscale data center, tiga enterprise data center, serta puluhan fasilitas edge data center yang tersebar di berbagai lokasi strategis.
Sektor menara telekomunikasi melalui Mitratel menyumbangkan pendapatan Rp9,5 triliun dengan kepemilikan 40.230 menara di seluruh Asia Tenggara. Sementara itu, unit Wholesale & International Service mencatatkan pendapatan Rp10,7 triliun melalui keterlibatan dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Di sisi lain, segmen B2B information and communication technology (ICT) meraup pendapatan Rp15,3 triliun meskipun menghadapi tantangan penurunan permintaan dari sektor korporasi dan pemerintah. Telkom merespons kondisi tersebut dengan memperkuat layanan keamanan siber dan kecerdasan buatan melalui kemitraan global.
"Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," tutup Dian Siswarini, Direktur Utama Telkom.
Total belanja modal atau capital expenditure yang direalisasikan perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp27,5 triliun. Mayoritas dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur telekomunikasi guna mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang perusahaan.