Laba Bersih SMGR Kuartal I-2026 Tumbuh 89 Persen di Tengah Tekanan Biaya Energi

Laba Bersih SMGR Kuartal I-2026 Tumbuh 89 Persen di Tengah Tekanan Biaya Energi
Foto: Ilustrasi Laba Bersih SMGR Kuartal I-2026 Tumbuh 89 Persen di Tengah Tekanan Biaya Energi.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) membukukan pendapatan sebesar Rp 8,29 triliun pada kuartal I-2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 8,3% secara tahunan (year on year/YoY).

Seperti dikutip dari Investasi, peningkatan pendapatan ini ditopang oleh kenaikan volume domestik sebesar 5,4% YoY. Selain itu, average selling price (ASP) domestik juga mengalami kenaikan sebesar 2,2% YoY.

Meski pendapatan tumbuh, laba bersih SMGR hanya mencapai Rp 80 miliar pada kuartal I-2026. Walaupun tumbuh 89% YoY, realisasi laba bersih ini masih berada di bawah ekspektasi pasar akibat tingginya beban pajak dan kenaikan biaya produksi.

Analis konsensus, Harry, menyampaikan bahwa kondisi finansial ini mengindikasikan industri semen nasional masih belum pulih sepenuhnya dari tekanan pasar.

"Ya tentu belum sehat, laba bersih akan tergerus dengan level margin yang lebih rendah. Hal ini adalah akibat dari energi krisis yang terjadi," ujar Harry kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Harry memproyeksikan kinerja emiten SMGR pada kuartal II-2026 masih akan menghadapi tantangan berat. Perbaikan signifikan untuk sektor semen dinilai belum akan terlihat dalam jangka pendek.

"Kami tidak melihat ada potensi perbaikan di kuartal II-2026 untuk sektor semen, termasuk SMGR. Hal ini menimbang potensi biaya yang lebih tinggi dan permintaan yang belum pulih sepenuhnya," kata Harry.

Kenaikan biaya energi menjadi tantangan utama bagi emiten semen, terutama karena harga batu bara yang masih bertahan di level tinggi. Tekanan operasional ini diperkirakan semakin berat akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Faktor makroekonomi lain seperti peningkatan inflasi serta potensi suku bunga tinggi turut membayangi industri ini karena dapat menekan daya beli masyarakat.

Rekomendasi Saham SMGR

Di sisi lain, pergerakan sentimen pasar terkait revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara menjadi hal yang perlu dicermati oleh para investor.

"Revisi RKAB batu bara menjadi kembali normal akan melemahkan harga batubara, sehingga margin perusahaan semen tidak akan begitu rendah," ujar Harry.

Terkait prospek saham, Ivan Reynaldo Sutheja selaku analis UBS Sekuritas Indonesia memilih untuk mempertahankan rekomendasi netral untuk saham SMGR. Ivan menetapkan target harga sebesar Rp2.700 per saham.

Sementara itu, Harry memberikan proyeksi yang sedikit lebih optimis dengan menetapkan target harga konsensus saham SMGR di level Rp 3.000 per saham.

Artikel terkait

Rekomendasi