PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mencatatkan lonjakan laba bersih yang sangat signifikan pada periode kuartal I/2026. Perusahaan tambang plat merah ini berhasil meraup laba bersih senilai Rp1,5 triliun.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan fantastis sebesar 1.184% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dilansir dari Market, laba bersih TINS pada kuartal I/2025 hanya tercatat sebesar Rp116,86 miliar.
Pencapaian ini juga melampaui ekspektasi internal perusahaan. Realisasi laba tersebut setara dengan 595% dari target yang ditetapkan perseroan untuk tiga bulan pertama tahun 2026, yakni Rp252 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, pendapatan PT Timah melonjak 160,5% secara tahunan. Perusahaan membukukan pendapatan Rp5,47 triliun, naik dari Rp2,10 triliun pada tahun lalu.
Pertumbuhan pendapatan ini dipicu oleh kenaikan volume penjualan serta penguatan harga jual rata-rata logam timah. Harga jual rata-rata berada di level US$49.221 per metrik ton, naik 51% dari sebelumnya US$32.495 per metrik ton.
Kinerja positif juga terlihat pada laba usaha yang mencapai Rp1,88 triliun. Sebagai perbandingan, laba usaha perseroan pada kuartal I/2025 hanya berada di angka Rp148 miliar.
EBITDA perseroan tercatat sebesar Rp2,1 triliun, tumbuh lebih dari 450% secara tahunan. Sementara itu, nilai aset perusahaan naik menjadi Rp15,23 triliun dari posisi akhir 2025 sebesar Rp13,64 triliun.
Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro menjelaskan bahwa hasil impresif ini merupakan buah dari konsistensi strategi efisiensi. Selain itu, optimalisasi di seluruh lini bisnis menjadi kunci utama keberhasilan perseroan.
"Pada kuartal I/2026, Perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian operasional yang signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi yang berkelanjutan di seluruh lini bisnis sehingga Perseroan mampu melampaui target laba yang ditetapkan," ujar Restu.
Peningkatan Produksi dan Operasional
Dari sektor operasional, produksi bijih timah mengalami lonjakan sebesar 96% menjadi 6.312 ton Sn. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah produksi hanya mencapai 3.225 ton Sn.
Peningkatan ini didukung oleh penambahan unit operasi, termasuk kapal isap produksi (KIP) dan tambang darat kemitraan. Beroperasinya Kapal Keruk Singkep 1 juga turut memberikan kontribusi besar pada sisi produksi.
Di sektor penambangan laut, perseroan terus mengoptimalkan kinerja kapal isap dan fasilitas pengolahan sisa hasil. Hal ini bertujuan meningkatkan efektivitas pengolahan dan produktivitas ponton isap produksi (PIP).
Produksi logam timah secara keseluruhan naik 82% menjadi 5.630 metrik ton Sn. Sejalan dengan itu, volume penjualan logam timah melonjak 113% menjadi 6.009 metrik ton dibanding tahun sebelumnya.
Pasar ekspor masih mendominasi penjualan logam timah perseroan dengan porsi mencapai 97%. Enam negara tujuan utama ekspor tersebut meliputi China, India, Korea Selatan, Italia, Singapura, dan Belanda.
PT Timah optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Penguatan tata kelola operasi dan tren harga timah global yang masih menguat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan berkelanjutan perseroan.