Industri kelapa sawit nasional masih menghadapi tantangan besar dari fluktuasi harga crude palm oil (CPO) global, tekanan biaya produksi, hingga tuntutan keberlanjutan. Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah emiten sawit mulai memperkuat strategi efisiensi dan produktivitas untuk menjaga momentum pertumbuhan kinerja.
PT Palma Serasih Tbk (PSGO) menjadi salah satu perusahaan perkebunan sawit yang berhasil mencatat pertumbuhan positif sepanjang tahun buku 2025. Dikutip dari Media Indonesia, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp442,8 miliar atau tumbuh 26,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp350,6 miliar.
Kinerja tersebut ditopang kenaikan harga jual CPO dan palm kernel (PK), strategi penjualan yang dinilai lebih efektif, serta penurunan biaya keuangan selama tahun berjalan. Pertumbuhan laba juga mendorong kenaikan marjin laba bersih perusahaan dari 16,5% menjadi 17,4%.
Di tengah ketidakpastian harga komoditas global, capaian itu menjadi sinyal bahwa perusahaan sawit mulai berupaya memperkuat fundamental bisnis agar tidak terlalu bergantung pada siklus harga pasar. Director & Corporate Secretary PT Palma Serasih Tbk, Astrida Niovita Bachtiar, mengatakan perusahaan fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan disiplin operasional.
"Pembagian dividen mencerminkan upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, disiplin operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham," ujar Astrida dalam Public Expose perusahaan di Jakarta Selatan, Kamis (22/5).
Sejalan dengan pertumbuhan laba, perusahaan menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp113,1 miliar atau setara Rp6 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
Selain membukukan pertumbuhan keuangan, perusahaan juga mencatat produksi tandan buah segar (TBS) inti dan plasma sebesar 480,8 ribu ton sepanjang 2025. Produksi CPO mencapai 140,2 ribu ton, sedangkan palm kernel sebesar 21,6 ribu ton.
Manajemen menilai produktivitas kebun masih memiliki ruang pertumbuhan karena sebagian tanaman belum memasuki usia produktif optimal. Produktivitas TBS inti saat ini tercatat sekitar 18 ton per hektare.
Namun tantangan industri sawit tidak hanya berkaitan dengan harga komoditas. Tekanan global terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan juga menjadi perhatian utama pelaku industri. Negara-negara tujuan ekspor mulai memperketat standar keberlanjutan, termasuk terkait pembukaan lahan, emisi karbon, dan perlindungan kawasan hutan.
Karena itu, PSGO menyatakan penguatan tata kelola dan implementasi prinsip keberlanjutan menjadi bagian penting strategi bisnis jangka panjang. Perusahaan mengklaim menjalankan kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) dalam aktivitas operasionalnya.
Selain itu, perusahaan juga melakukan pengelolaan kawasan konservasi bernilai tinggi serta kolaborasi perlindungan biodiversitas di wilayah operasional Kalimantan Timur.
"Palma Serasih berkomitmen menjalankan bisnis kelapa sawit secara bertanggung jawab, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham serta masyarakat," kata Astrida.
Perusahaan juga menilai pertumbuhan bisnis sawit perlu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, mulai dari penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha lokal, hingga peningkatan akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Di tengah dinamika industri global, langkah efisiensi dan penguatan keberlanjutan dinilai menjadi kunci bagi emiten sawit untuk menjaga daya saing sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.