Peluang penguatan harga saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai masih terbuka lebar. Potensi ini didorong oleh lompatan kinerja keuangan perusahaan pada kuartal I-2026 serta ekspektasi harga minyak dunia yang tetap tinggi.
Seperti dikutip dari Investortrust, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham MEDC. Target harga yang ditetapkan mencapai Rp 2.200 per saham, yang mencerminkan potensi penguatan sebesar 25,7% dari posisi terakhir.
BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek kinerja MEDC tetap solid ke depan. Kondisi tersebut didukung oleh pemulihan operasional yang berjalan baik dan kontribusi dari sejumlah aset strategis perusahaan.
Hingga Maret 2026, MEDC membukukan kenaikan laba periode berjalan menjadi US$ 71,97 juta. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US$ 20,07 juta.
Pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh pendapatan perusahaan yang meningkat menjadi US$ 668,30 juta. Selain itu, raihan laba dari entitas asosiasi turut menyumbang sebesar US$ 44,55 juta.
Realisasi kinerja keuangan MEDC pada kuartal I-2026 ini tercatat sudah sesuai dengan ekspektasi para analis. Lonjakan laba terjadi berkat kombinasi volume produksi yang lebih tinggi serta dukungan harga komoditas energi global.
Dari sisi operasional, total produksi minyak dan gas (O&G) MEDC mencapai kisaran 169 MBOEPD. Jumlah tersebut menunjukkan tren peningkatan yang positif jika dibandingkan dengan capaian pada periode sebelumnya.
Kontribusi dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) selaku anak usaha juga mulai terlihat. Peningkatan output tembaga dan emas ini didorong oleh percepatan operasional fasilitas smelter milik perusahaan.
Prospek emiten berkode saham MEDC ini diperkirakan semakin kuat berkat kehadiran sejumlah katalis proyek baru. Salah satunya adalah proyek Buluang Phase-1 yang ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2026.
Pertumbuhan produksi jangka menengah juga akan ditopang oleh proyek-proyek lain di sektor gas. Pengembangan aset di Malaysia melalui Cendramas PSC menjadi salah satu andalan masa depan perusahaan.
Infrastruktur Corridor diproyeksikan menjadi penggerak utama dalam monetisasi gas dengan target produksi awal pada tahun 2027. Di samping itu, ekspansi bisnis ketenagalistrikan memberikan tambahan kontribusi melalui peningkatan keandalan operasional pembangkit.
Efisiensi Biaya dan Risiko Global
MEDC dinilai mampu mempertahankan efisiensi pengeluaran dari sisi biaya operasional. Langkah ini membuat margin perusahaan tetap terjaga dengan baik di tengah fluktuasi harga energi global yang dinamis.
Perusahaan berhasil menjaga cash cost O&G tetap berada di bawah level US$ 10 per barel ekuivalen minyak. Strategi pengelolaan biaya ini meminimalkan dampak negatif ketidakpastian pasar terhadap profitabilitas emiten.
Kendati demikian, BRI Danareksa Sekuritas memberikan catatan mengenai beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Tantangan tersebut meliputi potensi penurunan harga minyak mentah di masa mendatang.
Faktor risiko lain yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan adalah keterlambatan dalam penyelesaian proyek. Dinamika geopolitik global yang tidak menentu juga berpotensi memberikan dampak terhadap operasional bisnis secara keseluruhan.