Laba Bersih Barito Pacific Melonjak 803 Persen pada Kuartal I 2026

Laba Bersih Barito Pacific Melonjak 803 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Barito Pacific Melonjak 803 Persen pada Kuartal I 2026.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT), emiten yang dimiliki oleh pengusaha Prajogo Pangestu, melaporkan lonjakan signifikan pada kinerja keuangan untuk periode kuartal I 2026. Pertumbuhan ini dipicu oleh kokohnya margin kilang minyak di Singapura serta strategi integrasi bisnis hilir.

Dilansir dari Money, pendapatan bersih konsolidasi perusahaan mencapai 2,57 miliar dollar AS sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. Perolehan tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 232 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Peningkatan pendapatan didorong oleh kontribusi yang lebih kuat dari anak usaha, Chandra Asri Group. Faktor utama pertumbuhan berasal dari operasional kilang minyak di Singapura yang didukung margin tinggi serta integrasi aset ritel bahan bakar yang baru diakuisisi.

Dari sisi profitabilitas, Barito Pacific berhasil mencatatkan EBITDA sebesar 567 juta dollar AS. Angka ini tumbuh sebesar 288 persen secara tahunan dan menjadi capaian kuartalan tertinggi dalam sejarah perusahaan tersebut.

Pencapaian rekor ini merupakan hasil dari kombinasi margin kilang minyak yang solid dan kontribusi bisnis ritel bahan bakar. Selain itu, perusahaan tetap menjaga efisiensi operasional, termasuk pada segmen energi terbarukan yang mereka kelola.

Direktur Utama Barito Pacific, Agus Pangestu, memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor di balik performa impresif tersebut. Menurutnya, optimalisasi operasi di Singapura menjadi kunci utama keberhasilan perusahaan di awal tahun ini.

"Kinerja ini terutama didorong oleh margin kilang minyak yang sangat kuat di operasi Singapura, yang ditopang oleh tingginya crack spread regional, optimalisasi bauran produk, serta disiplin dalam pengadaan bahan baku. Pencapaian tersebut lebih dari mampu mengimbangi volatilitas yang masih berlangsung di segmen petrokimia," ujar Agus Pangestu dalam keterangan resmi pada Selasa (5/5/2026).

Dampak Akuisisi Jaringan Ritel

Laba bersih setelah pajak konsolidasi perusahaan tercatat menyentuh angka 271 juta dollar AS pada kuartal I 2026. Nilai ini mencerminkan pertumbuhan luar biasa sebesar 803 persen jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

Salah satu langkah strategis yang memperkuat neraca perusahaan adalah penyelesaian akuisisi jaringan SPBU Esso dari ExxonMobil di Singapura. Aset ritel ini telah sepenuhnya masuk dalam laporan keuangan konsolidasi perusahaan sejak awal tahun 2026.

Agus Pangestu menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat integrasi vertikal, khususnya pada segmen hilir. Perluasan jaringan ritel diharapkan memperdalam integrasi di sepanjang rantai nilai bisnis perusahaan.

"Sejalan dengan tujuan strategis kami, kami telah menyelesaikan akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura, yang telah sepenuhnya terkonsolidasi dalam laporan keuangan sejak awal 2026. Akuisisi ini memperkuat ekosistem hilir kami melalui perluasan jaringan ritel serta pendalaman integrasi di sepanjang rantai nilai," kata Agus Pangestu.

Manajemen Barito Pacific menilai akuisisi tersebut akan memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap laba. Hal ini didukung oleh arus kas yang kuat serta potensi sinergi operasional dan komersial yang dihasilkan dari integrasi aset tersebut.

Posisi Aset dan Prospek Bisnis

Hingga akhir Maret 2026, Barito Pacific mencatatkan total aset senilai 17,62 miliar dollar AS. Posisi keuangan ini dinilai tetap solid meskipun industri energi dan petrokimia global saat ini sedang menghadapi dinamika yang cukup menantang.

Menghadapi sisa tahun 2026, perusahaan menyatakan tetap optimistis namun tetap mengedepankan pendekatan yang hati-hati. Faktor-faktor seperti disiplin operasional dan kontribusi aset hilir di Singapura diprediksi akan terus menopang kinerja masa depan.

Fondasi kinerja yang terbentuk pada kuartal pertama ini diyakini memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan. Hal ini krusial di tengah volatilitas pasar energi dan petrokimia dunia yang masih berlangsung.

Artikel terkait

Rekomendasi