PT Bank Sahabat Sampoerna membukukan lonjakan laba bersih sebesar 68 persen menjadi Rp 8,9 miliar pada kuartal I-2026 yang didorong oleh efisiensi operasional dan pertumbuhan bisnis sektor UMKM. Pencapaian ini diumumkan dalam keterangan resmi pada Kamis (21/5/2026) di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Investortrust.
Nilai keuntungan tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 5,3 miliar. Kenaikan performa finansial perusahaan ini juga ditopang oleh pertumbuhan dana murah (CASA) sekitar 29,6 persen secara tahunan.
Hingga akhir Maret 2026, Bank Sampoerna menyalurkan pembiayaan sektor UMKM sebesar 59 persen dari total portofolio kredit yang mencapai Rp 11 triliun. Penyaluran modal tersebut didukung oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) berkekuatan total Rp 15 triliun.
Peningkatan porsi giro dan tabungan menjadi motor utama pertumbuhan DPK tersebut. Saldo giro korporasi terkumpul senilai Rp 2,01 triliun dari posisi sebelumnya Rp 1,34 triliun, sedangkan simpanan tabungan naik menjadi Rp 1,43 triliun dari angka Rp 1,31 triliun.
Peningkatan kepercayaan publik dinilai berjalan beriringan dengan tingkat efisiensi pengelolaan manajemen internal. Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) institusi finansial ini membaik ke level 96,33 persen dari semula 97,26 persen.
"Pertumbuhan bisnis tetap menjadi fokus Bank Sampoerna dalam menghadapi dinamika industri perbankan. Karena itu, efisiensi operasional dan pengelolaan risiko yang disiplin terus kami jaga untuk memperkuat fundamental Bank," ujar Henky Suryaputra, Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sahabat Sampoerna.
Aspek kualitas aset perbankan juga tetap terjaga lewat penerapan manajemen risiko yang berkelanjutan. Indikator kredit bermasalah bersih atau Non-Performing Loan (NPL Net) berhasil dipertahankan pada posisi 2,70 persen sampai penghujung Maret 2026.
Di sisi lain, parameter likuiditas dan permodalan korporasi dilaporkan berada dalam kondisi yang sehat. Rasio kecukupan modal (CAR) berada pada level 30,03 persen dan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) mencapai 73,27 persen, dengan kepemilikan total aset bernilai Rp 19,5 triliun.
Ekspansi ekosistem digital kemudian diandalkan sebagai metode perluasan jangkauan fasilitas perbankan bagi pelaku usaha dan masyarakat luas. Strategi ini diwujudkan melalui kemitraan berbasis Bank as a Service (BaaS) yang menyediakan interkoneksi virtual account, sistem QRIS, hingga layanan transfer dana antarsistem.
"Sepanjang kuartal pertama 2026, layanan BaaS mencatat lebih dari 495 juta transaksi dengan total volume transaksi mencapai Rp98 triliun. Pertumbuhan ini menjadi bukti kuat kolaborasi yang erat antara Bank Sampoerna dan lebih dari 50 fintech, perusahaan multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya," jelas Ali Yong, CEO Bank Sampoerna.
Inklusi keuangan masyarakat turut ditingkatkan melalui pelaksanaan program edukasi hiburan bertajuk SampoernaFest. Sepanjang tahun 2025, agenda tersebut sudah menggandeng 79 mitra pelaku usaha kreatif dan kuliner guna mempopulerkan transaksi digital.
Layanan Sampoerna Mobile Banking (SMB) kini mendapatkan penyegaran visual antarmuka (UI/UX) untuk menambah kemudahan akses nasabah. Pembaruan ini mencakup integrasi menu cepat isi ulang dompet digital, pembukaan rekening deposito mandiri, serta variasi skema promo biaya transaksi.