Laba Bersih Bank BRI Tumbuh Mencapai Rp 15,89 Triliun

Laba Bersih Bank BRI Tumbuh Mencapai Rp 15,89 Triliun
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Bank BRI Tumbuh Mencapai Rp 15,89 Triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan secara individual sebesar Rp 15,89 triliun. Poin keuangan ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,91% secara tahunan (year on year/yoy) untuk periode Januari hingga April 2026.

Dikutip dari Investor Daily, laporan keuangan yang dirilis pada Senin (25/5/2026) menunjukkan lonjakan keuntungan neto tersebut ditopang oleh perbaikan struktur imbal hasil dari aktivitas intermediasi. Pendapatan bunga bersih perusahaan ikut terangkat 7,50% yoy menjadi Rp 39,37 triliun.

Kenaikan ini ditunjang oleh pendapatan bunga yang naik tipis 0,09% yoy menjadi Rp 53,50 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga justru mengalami penurunan sedalam 16,03% yoy menuju angka Rp 14,12 triliun.Kombinasi performa ini mendorong indikator margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menguat ke zona positif. Nilai NIM BBRI tercatat berada di level 6,22% sepanjang empat bulan pertama 2026, dan bertengger di posisi 6,11% per April 2026.

Pencapaian tersebut ditopang oleh penyaluran kredit emiten berkode saham BBRI yang terus berekspansi secara optimal. Distribusi pembiayaan bank tumbuh sebesar 10,97% yoy dengan total nominal mencapai Rp 1.376,35 triliun per April 2026.

Selain itu, pendapatan komisi atau fee tumbuh moderat di angka 2,99% yoy menjadi Rp 6,88 triliun. Sementara itu, nilai beban provisi mengalami kenaikan landai sebesar 1,98% yoy menjadi Rp 14,63 triliun.

Meskipun terjadi peningkatan beban provisi, rasio biaya kredit atau cost of credit (CoC) dari bank pelat merah ini tetap terkendali dengan baik. Rasio CoC berada di posisi 3,24% sepanjang empat bulan pertama 2026 atau sebesar 3,33% per April 2026.

Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 6,84% yoy menjadi Rp 1.496,30 triliun. Penurunan ini dipicu oleh penyusutan instrumen deposito yang terkoreksi cukup dalam.

Rincian struktur DPK perusahaan meliputi perolehan giro sebesar Rp 455,48 triliun yang naik 22,64% yoy, serta tabungan senilai Rp 603,72 triliun yang menguat 12,51% yoy. Sebaliknya, instrumen deposito merosot sebesar 11,25% yoy menjadi Rp 437,09 triliun.

Meskipun deposito menyusut, penghimpunan dana murah tetap mampu tumbuh tinggi hingga 16,65% yoy dengan nominal menyentuh Rp 1.059,20 triliun. Kondisi ini membuat rasio dana murah (current account saving account/CASA) terjaga kokoh pada level 70,79%.

Aktivitas penghimpunan DPK yang melambat di tengah derasnya penyaluran kredit berimplikasi pada pengetatan likuiditas internal. Indikator loan to deposit ratio (LDR) merangkak naik signifikan ke posisi 91,98% per April dari bulan sebelumnya yang berada di level 87,66%.

Bila ditinjau dari aspek profitabilitas, rasio ROA dan ROE perusahaan masih tetap terjaga di level yang aman. Masing-masing rasio tersebut berada pada angka 2,39% dan 15,87%.

Pergerakan Saham BBRI di Pasar Modal

Pada sesi perdagangan Senin (25/5/2026), harga saham BBRI bergerak menguat sebesar 120 poin atau naik 3,93% menuju level 3.170. Kendati demikian, kinerja saham secara tahun berjalan (year to date/ytd) terpantau masih terkoreksi sebesar 13,39%.

Volume perdagangan saham BBRI mencatatkan nilai transaksi hingga Rp 766,91 miliar dengan total saham yang ditransaksikan sebanyak 2,43 juta lot. Investor asing mendominasi dengan catatan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp 147,19 miar.

Rincian pergerakan modal asing pada saham ini terdiri atas total aksi beli senilai Rp 304,20 miliar, yang kemudian diimbangi oleh aksi jual oleh investor asing sebesar Rp 157,10 miar.

Artikel terkait

Rekomendasi