Laba Bersih Adi Sarana Armada Tipis Kuartal I-2026 Menjadi Rp 98,47 Miliar

Laba Bersih Adi Sarana Armada Tipis Kuartal I-2026 Menjadi Rp 98,47 Miliar
Foto: Ilustrasi Laba Bersih Adi Sarana Armada Tipis Kuartal I-2026 Menjadi Rp 98,47 Miliar.

PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 98,47 miliar sepanjang kuartal I-2026. Seperti dikutip dari Investortrust, perolehan tersebut mencerminkan penurunan tipis sebesar 3,22% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Hasil keuntungan tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan yang melesat 11% yoy. Emiten transportasi dan logistik ini sukses mengantongi pendapatan sebesar Rp 1,54 triliun selama periode Januari hingga Maret 2026.

Direktur Utama Adi Sarana Armada Prodjo Sunarjanto mengungkapkan bahwa peningkatan omzet perseroan disokong oleh penguatan lini bisnis logistik. Selain itu, performa yang konsisten pada sektor rental korporasi dan aktivitas penjualan mobil bekas turut menjadi pilar penopang.

"Penguatan pilar bisnis logistik serta performa stabil di lini rental korporasi dan penjualan kendaraan bekas menjadi penggerak utama pertumbuhan pendapatan perseroan periode ini," katanya, Selasa (28/4/2026).

Walaupun pendapatan mengalami kenaikan yang cukup signifikan, profitabilitas perusahaan menjadi agak terbatas. Kondisi ini dipicu oleh melonjaknya pos pengeluaran operasional sepanjang tiga bulan pertama tahun ini jika disandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pihak manajemen menerangkan bahwa lonjakan ongkos operasional ini merupakan bagian dari strategi korporasi. Perusahaan tengah gencar mengucurkan investasi infrastruktur jangka panjang serta menyiapkan sejumlah proyek baru demi menjaga kelangsungan bisnis ke depan.

Dalam proyek perluasan infrastruktur tersebut, perusahaan memperbesar kapasitas area pergudangan. Tidak hanya itu, modernisasi juga dilakukan melalui program digitalisasi pada sistem manajemen pengiriman barang.

"Investasi di infrastruktur inilah yang menyebabkan kenaikan biaya di awal tahun, termasuk didalamnya penambahan personil untuk melayani klien-klien B2B," ujar Prodjo.

Apabila dibedah lebih dalam, beban pokok pendapatan perusahaan membengkak menjadi Rp 1,08 triliun dari posisi kuartal I-2025 yang sebesar Rp 967,21 miar. Sementara itu, pengeluaran untuk pos umum dan administrasi ikut merangkak naik menjadi Rp 225,05 miliar dari sebelumnya Rp 182,45 miliar.

Artikel terkait

Rekomendasi