Kinerja bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mencatatkan pertumbuhan yang solid pada kuartal I 2026 di tengah dinamika ekonomi global. Laju pertumbuhan dari lima bank pelat merah ini menunjukkan sejumlah perbedaan signifikan, terutama dalam perolehan laba bersih.
Seperti dikutip dari Investortrust, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjadi pemimpin dari segi besaran nominal laba. Namun, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) berhasil memimpin dalam hal persentase pertumbuhan secara tahunan.
BRI membukukan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 13,7% secara year on year (yoy) hingga kuartal I 2026. Pertumbuhan ini disokong oleh penyaluran kredit yang selektif serta efisiensi pada biaya dana.
"BRI berhasil mencatatkan laba bersih pada triwulan I 2026 sebesar Rp 15,5 triliun atau tumbuh 13,7% (yoy)," ujar Hery Gunardi.
Hery Gunardi menambahkan bahwa emiten berkode saham BBRI tersebut menyalurkan kredit sebesar Rp1.562 triliun, naik dari Rp1.374 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Segmen UMKM menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai Rp1.211 triliun.
Kualitas aset BRI juga membaik dengan penurunan rasio loan at risk (LAR) menjadi 9,7%. Dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.555 triliun yang ditopang oleh pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 13,2% menjadi Rp1.058,6 triliun.
"Secura keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan. Kalau tumbuh saja mungkin gampang, tapi kalau tumbuh dengan sustain dan juga berkualitas itu satu hal yang memang harus dikendalikan dengan baik," ucap Hery Gunardi.
Pertumbuhan Kredit Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengantongi laba bersih konsolidasi senilai Rp15,4 triliun, tumbuh 16,6% secara tahunan. Capaian ini didorong oleh penyaluran kredit bank only yang mencapai Rp1.530,16 triliun.
"Hingga kuartal I tahun 2026, total kredit Bank Mandiri tumbuh 17,4% secara year on year, hampir dua kali lipat secara relatif terhadap pertumbuhan dari industri," kata Riduan.
Riduan juga menjelaskan bahwa kualitas kredit tetap sehat dengan rasio non performing loan (NPL) gross bank only di level 0,98%. Sementara itu, DPK Bank Mandiri melesat 21,1% menjadi Rp1.675,22 triliun.
"Sementara industri tumbuh pada level 13,2%. Hal ini turut menunjukkan bahwa Bank Mandiri mampu menjaga kepercayaan nasabah dengan baik, sehingga dapat menghasilkan pengelolaan likuiditas yang stabil dan berkelanjutan," tutur Riduan.
Novita Widya Anggraini menambahkan bahwa komposisi DPK didominasi oleh CASA dengan pangsa 71,71% atau setara Rp1.201,25 triliun.
"Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan CASA yang solid mencapai sekitar Rp 1.201,25 triliun dan tumbuh 12,7% secara tahunan. Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan strategi funding kami sekaligus memberikan sinyal likuiditas di industri yang semakin membaik dengan struktur dana yang semakin efisien dan stabil," ujar Novita Widya Anggraini.
Novita Widya Anggraini menilai kinerja ini didukung oleh likuiditas kuat, peningkatan efisiensi, dan permodalan yang solid.
Ketahanan Model Bisnis BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) meraup laba bersih Rp5,65 triliun atau tumbuh 4,98% dibandingkan kuartal I 2025 yang sebesar Rp5,38 triliun. Penyaluran kredit BNI meningkat 20,1% menjadi Rp919,3 triliun.
"Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," kata Hussein Paolo Kartadjoemena.
Rasio NPL BNI tercatat di level 1,9% dengan LAR 8,6% dan credit cost 1,1%. Kinerja keuangan juga didukung oleh pertumbuhan CASA sebesar 26,80% menjadi Rp731,6 triliun.
"BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko di tengah dinamika global yang penuh tantangan," ujar Putrama Wahju Setyawan.
Lonjakan Laba Bersih BTN
BTN menorehkan pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 22,6% menjadi Rp1,11 triliun. Lonjakan ini dipicu oleh penyaluran kredit yang naik 10,3% menjadi Rp400,63 triliun pada kuartal I 2026.
"Dari total penyaluran kredit tersebut, di segmen KPR (kredit pemilikan rumah) Subsidi, BTN merekam telah menyalurkan kredit senilai Rp 193,55 triliun per kuartal I 2026 atau naik 7,7% (yoy)," tutur Nixon LP Napitupulu.
Untuk KPR non-subsidi, nilainya naik 5,4% menjadi Rp112,56 triliun. DPK BTN juga tumbuh 9,9% menjadi Rp422,63 triliun dengan porsi CASA mencapai Rp212,11 triliun atau 50,2% dari total DPK.
Biaya dana (cost of fund) BTN membaik ke level 3,0% dari posisi 4,0% pada tahun lalu. Total aset perusahaan naik 10,5% menjadi Rp517,54 triliun.
"Kalau kita ngomongin laba, pasti datangnya kalau bank itu kan dari interest income dibandingkan dengan interest expense. Yang kita sebut dengan net interest income (NII). BTN NII-nya itu naiknya 13%," kata Nofry Rony Poetra.
Nofry Rony Poetra menjelaskan bahwa rasio NPL BTN berada di level stabil 3,1% yang turut menjaga stabilitas pendapatan bunga.
"NPL pasti akan memengaruhi pendapatan bunga. Kalau orang tidak bayar, kita tidak mendapatkan bunga. Karena NPL-nya kita bisa jaga dengan bagus, kualitas kreditnya bagus, pendapatan bunganya juga jadi stabil, NPL-nya tadi di 3,1%, ini stabil angkanya," ujar Nofry Rony Poetra.
Pembiayaan Segmen Konsumer BSI
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mengantongi laba bersih Rp2,20 triliun atau tumbuh 17,10%. Capaian tersebut ditopang kenaikan pembiayaan sebesar 14,39% menjadi Rp328,54 triliun.
"Pembiayaan didominasi oleh segmen konsumer. Kami di BSI segmen terbesar konsumer, baru diikuti oleh wholesale dan ritel. Segmen konsumer dan emas ini mencapai Rp 154 triliun atau naik 17,5%," kata Anggoro Eko Cahyo.
Kualitas pembiayaan BSI tetap terjaga dengan rasio NPF gross sebesar 1,80%. DPK BSI tumbuh 17,99% menjadi Rp376,80 triliun.
"Pertumbuhan laba ini didukung oleh pertumbuhan DPK dan dana murah yang tertinggi di industri. Ini tentu saja menunjukkan bagaimana kami menyasar segmen generasi muda yang kami edukasi untuk mulai mendaftar haji atau berangkat umrah sejak dini. Inilah salah satu penopang kami dari pertumbuhan DPK," ucap Anggoro Eko Cahyo.
Total aset BSI tercatat meningkat 14,78% menjadi Rp460,13 triliun pada kuartal I 2026 dari Rp400,883 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.