Laba Bersih ANTAM Tumbuh 58 Persen pada Kuartal I 2026

Laba Bersih ANTAM Tumbuh 58 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Laba Bersih ANTAM Tumbuh 58 Persen pada Kuartal I 2026.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 3,66 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini dilansir dari Money terjadi di tengah fluktuasi harga komoditas global pada Senin (28/4/2026).

Pertumbuhan laba tersebut meningkat signifikan dari angka Rp 2,32 triliun pada kuartal pertama tahun 2025. Emiten pertambangan anggota holding BUMN MIND ID ini mencatat kenaikan EBITDA sebesar 55 persen menjadi Rp 5,05 triliun dari sebelumnya Rp 3,26 triliun.

Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menjelaskan bahwa hasil positif ini didorong oleh konsistensi dalam menjalankan strategi operasional dan kedisiplinan dalam pengelolaan keuangan perusahaan di tengah tantangan geopolitik.

"Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan," ujar Untung Budiharto, Direktur Utama ANTAM.

Kepemimpinan operasional tersebut bertujuan untuk memberikan dampak langsung terhadap nilai investasi bagi para pemangku kepentingan dalam jangka panjang.

"Sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham," lanjut Untung Budiharto, Direktur Utama ANTAM.

Segmen emas menjadi tulang punggung utama perusahaan dengan kontribusi mencapai 81 persen dari total penjualan. Nilai penjualan emas tercatat sebesar Rp 23,89 triliun, meningkat 11 persen dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya sebesar Rp 21,61 triliun.

Volume penjualan logam mulia tersebut menyentuh angka 8.464 kilogram atau setara 272.124 troy ounce. Untuk memperkuat ketersediaan bahan baku, perusahaan telah menyepakati kerja sama strategis dengan Merdeka Grup melalui Gold Sales & Purchase Agreement pada Maret 2026.

Secara kumulatif, penjualan bersih ANTAM mencapai Rp 29,32 triliun dengan dominasi pasar domestik sebesar 97 persen atau senilai Rp 28,31 triliun. Laba kotor perusahaan melonjak 54 persen menjadi Rp 5,62 triliun dibandingkan Rp 3,64 triliun pada tahun lalu.

Selain emas, segmen nikel berkontribusi sebesar Rp 4,47 triliun atau naik 19 persen. Produksi bijih nikel tercatat 3,88 juta wet metric ton (wmt) dengan realisasi penjualan 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap oleh pasar dalam negeri.

Produksi feronikel mencapai 3.976 ton nikel dalam feronikel (TNi) dengan volume penjualan ekspor sebesar 2.803 TNi. Sementara itu, segmen bauksit dan alumina menyumbang pendapatan sebesar Rp 879,14 miliar atau meningkat 24 persen secara tahunan.

Total aset perusahaan per kuartal I 2026 menguat 31 persen menjadi Rp 63,30 triliun dari posisi sebelumnya Rp 48,30 triliun. Posisi kas dan setara kas yang mencapai Rp 9,04 triliun memberikan fleksibilitas keuangan yang lebih luas bagi perusahaan.

Artikel terkait

Rekomendasi