Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan besar pada pekan depan. Kondisi ini dipicu oleh dinamika negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Dikutip dari Investasi, data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda terus melemah hingga mencapai level Rp 17.597 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Angka ini menjadi rekor pelemahan terbaru setelah sebelumnya sempat berfluktuasi di kisaran Rp 17.400 hingga Rp 17.500 sepanjang pekan.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga mencatat tren serupa. Pada 15 Mei 2026, rupiah berada di posisi yang sangat rentan setelah sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp 17.514 pada awal pekan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan bahwa pergerakan mata uang pada pekan mendatang sangat bergantung pada kombinasi sentimen global dan kebijakan dalam negeri. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada hubungan dagang AS dan Tiongkok.
"Pasar akan sangat sensitif terhadap arah hubungan AS dan Tiongkok karena dampaknya langsung terasa terhadap pergerakan dolar AS dan arus modal global," ujar Josua.
Selain masalah dagang, investor sedang menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Langkah stabilisasi dari bank sentral sangat dinantikan untuk meredam volatilitas nilai tukar yang kian meningkat di pasar spot maupun domestik.
Dampak Harga Minyak dan Risiko Inflasi
Kenaikan harga minyak dunia turut memperberat posisi rupiah. Saat ini, harga minyak Brent berada di kisaran US$ 109 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level US$ 105 per barel.
"Karena Indonesia masih bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak langsung dipersepsikan sebagai tambahan risiko bagi rupiah," kata Josua.
Tingginya harga komoditas energi ini memicu perhitungan ulang terhadap risiko inflasi, subsidi energi, hingga defisit neraca transaksi berjalan. Kondisi tersebut diperparah dengan potensi keluarnya arus modal asing dari pasar saham dan surat berharga negara (SBN).
Ketahanan Fundamental Ekonomi Nasional
Meskipun berada dalam tekanan hebat, Josua menilai kondisi ini belum mencerminkan penurunan fundamental ekonomi nasional secara menyeluruh. Cadangan devisa Indonesia per April 2026 masih kuat di angka US$ 146,2 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor. Angka ini dianggap lebih dari cukup untuk menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia dari guncangan global yang sedang terjadi.
"Artinya, tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen risiko global, tingginya permintaan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan arus modal asing keluar dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi domestik," tutur Josua.
Berdasarkan analisis nilai tukar riil, rupiah sebenarnya sudah bergerak di bawah nilai wajarnya yang seharusnya berada di level Rp 17.000 per dolar AS. Proyeksi untuk pekan depan menunjukkan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.425 hingga Rp 17.550 per dolar AS.
Risiko pelemahan menuju Rp 17.650 masih terbuka jika harga minyak kembali melonjak. Sebaliknya, rupiah bisa menguat ke Rp 17.400 jika ada kesepakatan dagang yang konkret antara AS dan Tiongkok serta langkah stabilisasi dari Bank Indonesia.