Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mendesak pemerintah untuk mengintegrasikan pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum sekolah sejak dini sebagai strategi memutus rantai kecelakaan pada usia produktif. Langkah ini dinilai krusial mengingat tingginya angka fatalitas di jalan raya yang sering berujung pada kematian dan kemiskinan, sebagaimana dilansir dari Detik Oto.
Integrasi kurikulum tersebut bertujuan membentuk karakter dan etika berkendara yang selama ini cenderung diabaikan oleh masyarakat Indonesia. Pendidikan di negara maju menjadi acuan karena tidak hanya mengenalkan rambu, tetapi juga menggabungkan aspek psikologis dan penegakan hukum.
"Pendekatannya sering kali menggabungkan aspek psikologi, infrastruktur yang mendukung pembelajaran, serta penegakan hukum yang ketat," kata Djoko dalam keterangan tertulisnya.
Djoko menyoroti praktik di Jepang di mana anak-anak usia enam tahun dilatih mandiri dengan berjalan kaki ke sekolah secara berkelompok. Budaya empati atau omoiyari ditanamkan agar generasi muda memahami ritme lalu lintas tanpa pengawasan konstan orang tua.
"Ini secara tidak langsung mengajarkan mereka cara menyeberang dan memahami ritme lalu lintas," katanya.
Selain Jepang, Swedia menjadi rujukan melalui konsep Vision Zero yang menempatkan nyawa manusia sebagai prioritas utama dalam desain infrastruktur. Sistem pendidikan di sana bersifat spiral, yakni diajarkan berulang dengan tingkat kesulitan yang meningkat dari jenjang TK hingga SMA.
"Tanggung jawab system, pendidikan di Swedia menekankan bahwa manusia bisa melakukan kesalahan (human error), sehingga edukasi dibarengi dengan desain infrastruktur yang 'memaafkan' kesalahan tersebut (seperti pembatas jalan yang fleksibel dan zona 30 km/jam). Pendidikan keselamatan jalan adalah bagian dari materi wajib yang diajarkan secara spiral (berulang dengan tingkat kesulitan meningkat) dari TK hingga SMA," sebut Djoko.
Penanaman budaya keselamatan sejak dini dianggap lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan penilangan di jalan raya. Menurut Djoko, etika berlalu lintas harus menjadi norma sosial yang tertanam kuat dalam karakter bangsa agar kepatuhan muncul bukan karena takut denda.
"Alasan fundamental mengapa kurikulum ini menjadi sangat krusial di Indonesia," kata Djoko.
Edukasi terhadap anak-anak juga memiliki efek domino yang positif dalam lingkungan terkecil. Djoko memandang bahwa anak-anak yang paham aturan dapat berperan sebagai pengontrol perilaku orang tua mereka saat berkendara.
"Anak-anak yang teredukasi dengan baik sering kali menjadi 'pengingat' bagi orang tua mereka saat berkendara, yang secara tidak langsung memperluas jangkauan edukasi ke lingkup keluarga," katanya.
Data Korlantas Polri menunjukkan mayoritas korban kecelakaan berada pada rentang usia remaja hingga dewasa muda. Kurikulum ini diharapkan menjadi perlindungan bagi potensi ekonomi bangsa dari risiko fatalitas kecelakaan.
"Banyak siswa SMP dan SMA di Indonesia yang sudah mengendarai sepeda motor sebelum memiliki SIM karena kebutuhan mobilitas. Kurikulum keselamatan memberikan pemahaman mengenai risiko teknis dan hukum yang selama ini sering diabaikan. Selain itu, untuk melindungi usia produktif dari kecelakaan berarti melindungi potensi ekonomi dan masa depan bangsa," ujarnya.
Pemahaman mengenai hierarki pengguna jalan juga menjadi poin penting agar jalan raya menjadi ruang publik yang demokratis. Penekanan diberikan pada prioritas pejalan kaki dan pesepeda untuk mengurangi budaya arogan di jalanan.
"Di samping itu membentuk toleransi dan empati. Dengan mengurangi budaya arogan atau 'adu cepat' di jalan yang sering menjadi pemicu kecelakaan maupun konflik sosial (road rage)," sebutnya.
Upaya ini diharapkan mampu menciptakan standardisasi pengetahuan keselamatan secara nasional. Setiap anak di seluruh wilayah Indonesia diharapkan mendapat informasi yang setara mengenai penggunaan alat keselamatan seperti helm SNI.
"Seiring berkembangnya infrastruktur seperti jalan tol dan kendaraan listrik, kurikulum membantu masyarakat beradaptasi dengan aturan-aturan baru yang lebih kompleks," ucap Djoko.