Kunjungan Wisatawan Nusantara Triwulan I 2026 Melonjak 13 Persen

Kunjungan Wisatawan Nusantara Triwulan I 2026 Melonjak 13 Persen
Foto: Ilustrasi Kunjungan Wisatawan Nusantara Triwulan I 2026 Melonjak 13 Persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total perjalanan wisatawan nusantara mencapai 319,51 juta pada triwulan I-2026, atau tumbuh sebesar 13,14 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu. Kenaikan mobilitas domestik ini dilaporkan secara resmi oleh instansi terkait pada Selasa (5/5/2026) di Jakarta.

Pertumbuhan signifikan juga terjadi pada Maret 2026 dengan jumlah perjalanan mencapai 126,34 juta, melonjak 42,1 persen secara tahunan sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Fenomena ini berdampak positif pada penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang menyentuh angka Rp 55 triliun.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memberikan penjelasan rinci mengenai pergerakan angka kunjungan dan dampaknya terhadap kondisi fiskal negara. Beliau mengaitkan peningkatan mobilitas ini dengan pertumbuhan kuartalan yang konsisten.

"Kita bisa melihat meningkatnya mobilitas warga tersebut dari angka perjalanan wisatawan nusantara, yang sepanjang kuartal pertama tumbuh 13,14% dibandingkan periode yang sama tahun 2025," kata Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Data BPS menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta orang atau naik 10,5 persen. Sementara itu, warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri tercatat sebanyak 793.160 orang, meningkat 36,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Amalia memaparkan bahwa sektor perpajakan mendapatkan dorongan besar dari aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak melalui sektor pariwisata selama tiga bulan pertama tahun ini.

"Peningkatan PPN dan PPnBM memberi kontribusi besar pada penerimaan perpajakan, yang pada tiga bulan pertama tahun ini mencapai Rp 394,8 triliun, atau naik 20,7% yoy," jelas Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Realisasi belanja negara hingga Maret 2026 juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 31 persen menjadi Rp 815 triliun. Pemerintah memanfaatkan kenaikan penerimaan pajak ini untuk membiayai berbagai program strategis nasional sejak awal periode anggaran.

"Akselerasi belanja negara sejak awal tahun, terutama ke program prioritas pemerintah, mampu menciptakan multiplier effect, sehingga memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan geoekonomi global saat ini," pungkas Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Artikel terkait

Rekomendasi