Seorang penumpang KRL Commuter Line, Endang Kuswati (40), berhasil dievakuasi setelah terjebak selama 10 jam di dalam reruntuhan gerbong akibat tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam pukul 20.52 WIB.
Insiden maut ini melibatkan kereta api jarak jauh dan komuter yang mengakibatkan kerusakan parah pada gerbong khusus wanita, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Endang ditemukan dalam kondisi lemas di bawah tumpukan penumpang lainnya sebelum akhirnya ditarik keluar oleh tim penyelamat pada Selasa pagi.
Sepupu korban, Iqbal, menjelaskan bahwa pihak keluarga mulai merasa khawatir setelah menerima panggilan darurat dari Endang sesaat setelah kejadian berlangsung. Lokasi kejadian yang sangat padat menyulitkan proses identifikasi awal bagi pihak keluarga yang sudah bersiaga di sekitar area stasiun.
"Dia itu korban baru mengabari kita ya sekitar jam 10 malam. Dia menelepon ke kerabat kita di daerah Bekasi. Dia telepon kalau misalkan dia itu jadi salah satu korban yang ada di kereta tersebut," ungkap Iqbal, sepupu korban.
Upaya pencarian oleh keluarga sempat mengalami kendala informasi selama beberapa jam karena belum adanya kepastian status evakuasi dari petugas lapangan. Titik terang mengenai keberadaan korban baru didapatkan setelah pihak keluarga melihat dokumentasi visual dari lokasi kecelakaan.
"Jadi aku dapat salah satu foto dari pers itu, korban itu masih di dalam, dalam kondisi lemas dan udah di dalam proses oksigen ya, karena di situ dia udah posisinya udah dari jam 9 malam juga untuk terjepit," jelas Iqbal, sepupu korban.
Petugas kemudian memberikan izin bagi suami dan anak korban untuk mendekati area reruntuhan guna memberikan dukungan moral di tengah proses evakuasi yang sangat teknis. Kehadiran keluarga diharapkan dapat menjaga kondisi psikologis korban yang masih berada di bawah himpitan struktur kereta.
"Akhirnya langsung masuk ke dalam, suami dan anaknya sempat mendampingi lah, setidaknya sedikit memberikan semangat ya sekitar jam 02.00 WIB pagi. Anaknya juga diizinin untuk masuk melihat kondisinya," kata Iqbal, sepupu korban.
Korban diketahui berada di posisi yang sangat sulit dijangkau karena letaknya yang berada di bagian paling belakang gerbong 10. Menurut keterangan saksi, korban bertahan di antara para penumpang lain yang beberapa di antaranya telah dinyatakan meninggal dunia.
"Dia itu posisinya setengah berdiri di dalam tumpukan-tumpukan manusia gitu, orang-orang yang notabene itu juga jadi korban juga, tapi yang masih bergerak gitu adalah sepupu saya sendiri," ungkap Iqbal, sepupu korban.
Setelah penanganan yang berlangsung hingga pagi hari, tim gabungan akhirnya berhasil mengeluarkan korban sebagai salah satu orang terakhir yang dievakuasi dari gerbong tersebut. Proses penarikan korban dilakukan secara hati-hati mengingat banyaknya material besi yang menjepit tubuhnya.
"Kalau kronologi tadi kita dapat tuh dia sampai tidur di reruntuhan orang ya, karena di bawah ataupun di belakangnya itu masih banyak ada beberapa yang meninggal. Jadi informasi terakhir yang aku dapat tuh saudaraku jadi salah satu dari tiga orang yang terakhir ditarik dari kereta tersebut," ucap Iqbal, sepupu korban.
Saat ini korban tengah menjalani pemeriksaan intensif di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi untuk mengidentifikasi potensi cedera internal. Keluarga menyatakan bahwa tubuh korban mengalami pembengkakan akibat tekanan benda tumpul yang terjadi dalam durasi sangat lama.
"Untuk update kondisi sekarang saat ini tuh korban lagi di-rontgen ya. Karena ketika diangkat, badannya yang dialami itu bengkak-bengkak gitu karena udah kurang lebih 10 jam di balik reruntuhan ya. Jadi saat ini kita masih menunggu hasil rontgen apakah ada patah tulang ataupun yang lain-lainnya," kata Iqbal, sepupu korban.
Meskipun mengapresiasi kecepatan evakuasi oleh pemerintah, keluarga korban belum melakukan pembicaraan formal mengenai hak-hak atau kompensasi dengan operator kereta api. Fokus utama mereka saat ini sepenuhnya tertuju pada stabilisasi kesehatan fisik korban.
"Kita belum juga ada obrolan dari pihak PT KAI atau pihak-pihak terkait. Jadi tadi kita cuman fokusnya untuk membawa korban ke rumah sakit aja dulu. Jadi sisanya nanti kita akan lakukan setelahnya lah," ujar Iqbal, sepupu korban.
Keluarga berharap tragedi ini menjadi momentum untuk melakukan audit menyeluruh terhadap infrastruktur teknis perkeretaapian. Kerusakan pada gerbong 10 dinilai sangat tragis karena sebagian besar ruangnya hancur dihantam lokomotif kereta api jarak jauh.
"Apresiasi sedikit dari pemerintah cukup cepat untuk evakuasi beberapa korban ya. Karena memang aku lihat di lapangan cukup miris karena sudah sekitar seperempat dari gerbong 10 itu udah ketutup dengan kepalanya (KA)," ucap Iqbal, sepupu korban.
Harapan tersebut disampaikan agar insiden serupa yang disebabkan oleh gangguan komunikasi atau persinyalan tidak terjadi kembali di masa depan demi keselamatan penumpang.
"Pesannya yang penting ya tolong diperbaiki lagi mungkin dari sisi informasi ya, karena mungkin ada sedikit miss dari sisi sinyal-sinyal kali ya. Semoga korban-korban tuh bisa cepat sembuh dan yang meninggal tolong diberikan pintu maaf," tutup Iqbal, sepupu korban.