KRL Lintas Bekasi Timur Beroperasi Normal Usai Kecelakaan Maut

KRL Lintas Bekasi Timur Beroperasi Normal Usai Kecelakaan Maut
Foto: Ilustrasi KRL Lintas Bekasi Timur Beroperasi Normal Usai Kecelakaan Maut.

Aktivitas penumpang di Stasiun Bekasi Timur kembali padat pada Kamis (30/4/2026) setelah operasional perjalanan sempat terhenti total sejak Senin (27/4/2026) malam. Pemulihan ini dilakukan pascainsiden kecelakaan antara KRL, taksi listrik, dan KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan sebidang Jalan Ampera.

Kecelakaan bermula saat satu unit taksi listrik mogok di perlintasan tanpa palang pintu yang mengakibatkan KRL Nomor 5568A tertahan di stasiun. Malapetaka terjadi ketika KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta-Surabaya melintas dan menabrak gerbong khusus perempuan pada rangkaian KRL tersebut.

Data yang dilansir dari Ekonomi menunjukkan tragedi ini menyebabkan 107 korban perempuan, dengan rincian 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka. Selain menimbulkan korban jiwa, insiden tersebut merusak sarana kereta api dan mengganggu jadwal perjalanan kereta jarak jauh serta komuter lintas Cikarang.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat terdapat 3.888 perlintasan sebidang di Jawa dan Sumatra, di mana 1.089 di antaranya merupakan perlintasan liar. Khusus di wilayah Daop 1 Jakarta, tercatat masih terdapat 166 titik perlintasan ilegal yang tidak dijaga.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa kereta api memiliki karakteristik pengereman yang berbeda dengan kendaraan darat lainnya. Ia menyebutkan bahwa kereta membutuhkan jarak pengereman yang panjang karena massa dan kecepatan yang besar.

ÔÇ£Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan dengan tetap menjamin keselamatan dan kelancaran perjalanan kereta api dan lalu lintas jalan,ÔÇØ kutip Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.

Manajemen KAI terus berupaya menekan angka kecelakaan dengan menutup 316 perlintasan liar sepanjang tahun 2025. Selain itu, peningkatan status perlintasan menjadi tidak sebidang melalui pembangunan flyover dan underpass juga terus dilakukan.

ÔÇ£Kebiasaan sederhana ini bukan sekadar aturan, tetapi bentuk kepedulian yang menjaga keselamatan kita semua,ÔÇØ kata Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai kedisiplinan masyarakat merupakan faktor krusial dalam menghadapi kompleksitas pengaturan perlintasan sebidang. Menurutnya, pertumbuhan pemukiman yang masif di sekitar rel menjadi pemicu utama munculnya perlintasan tidak resmi.

ÔÇ£Mengelola perlintasan kereta api tidaklah mudah karena melibatkan berbagai variabel yang saling berbenturan,ÔÇØ ujar Djoko Setijowarno, Pengajar Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata.

Djoko menyarankan pemerintah untuk segera menghilangkan perlintasan sebidang, terutama pada jalur logistik utama. Ia juga mengusulkan pemasangan sensor yang terintegrasi dengan sistem persinyalan untuk mendeteksi kendaraan yang terjebak di tengah rel guna mencegah tabrakan serupa berulang.

Artikel terkait

Rekomendasi