Prosedur operasi bariatrik kini menjadi sorotan sebagai solusi penanganan obesitas ekstrem bagi pasien yang memiliki gangguan metabolik serius. Dokter spesialis bedah digestif, Handy Wing, menjelaskan pada Rabu (6/5/2026) bahwa tindakan ini merupakan terapi medis terukur dan bukan sekadar metode instan untuk menurunkan berat badan.
Dilansir dari Detik Health, penanganan medis ini mulai dipertimbangkan ketika tubuh seseorang sudah menganggap berat badan berlebih sebagai kondisi normal baru akibat perubahan metabolisme jangka panjang. Pola hidup modern menjadi salah satu faktor pendorong utama terjadinya kondisi tersebut pada masyarakat luas.
"Pemicu obesitas salah satunya berasal dari gaya hidup modern yang gemar mengonsumsi makanan UPF, tinggi gula dan lemak secara berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, dan stres kronis," jelas Handy Wing, Dokter Spesialis Bedah Digestif.
Metode pembedahan ini dilakukan dengan melakukan modifikasi pada struktur organ pencernaan pasien. Langkah tersebut bertujuan untuk mengatur ulang sistem hormonal dan penyerapan nutrisi yang selama ini terganggu akibat penyakit metabolik.
"Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya," lanjut Handy Wing, Dokter Spesialis Bedah Digestif.
Kriteria pasien yang diperbolehkan menjalani operasi ini didasarkan pada perhitungan Indeks Massa Tubuh (BMI) dan keberadaan penyakit penyerta. Berikut adalah rincian syarat medis bagi calon pasien bariatrik:
| Kategori Pasien | Kriteria BMI |
|---|---|
| Pasien dengan Diabetes Melitus | Lebih dari 27,5 |
| Pasien dengan Komorbid (Hipertensi/Metabolik) | Lebih dari 30 |
| Pasien tanpa Komorbid | Lebih dari 35 |
Selain aspek fisik, pasien juga diwajibkan menjalani persiapan mental karena risiko depresi pascaoperasi yang mencapai 15 persen menurut data PubMed. Perubahan hormon yang drastis dan tuntutan adaptasi pola makan baru menjadi tantangan psikologis yang harus dihadapi oleh setiap pasien pascatindakan.